benuanta.co.id, NUNUKAN – Masyarakat Krayan melakukan aksi unjuk rasa dengan melakukan penutupan jalur lintas batas perbatasan dengan menggunakan kawat berduri pada Selasa, 5 Juli 2022.
Aksi penutupan tersebut sebagai bentuk protes terhadap adanya kebijakan hanya 1 koperasi di Malaysia (Sarawak) sebagai pemasok bahan pokok ke wilayah Krayan, hal ini dianggap masyarakat setempat sebagai monopoli perdagangan.
Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Nunukan Kepala Bidang Perdagangan R. Dior Frames menyampaikan, masyarakat Krayan mengharapkan adanya pemulihan ekonomi di perbatasan dengan sistem perdagangan sebagaimana yang telah berlaku sebelum Pandemi Covid-19.
Sejak Pandemi Covid-19 hingga sekarang, masyarakat di wilayah Krayan sangat terdampak atas penutupan perdagangan Lintas Batas antar negara Indonesia-Malaysia.
“Tidak bisa kita pungkiri, selama ini sumber pengadaan barang-barang sembako dan kebutuhan lainnya di pasok dari Lawas, Sarawak Malaysia dengan harga yang murah jika dibandingkan dengan produk dalam negeri,” ujar Dior kepada benuanta.co.id, Selasa (5/6/2022)
Dikatakannya, menindaklanjuti persoalan pemenuhan kebutuhan pokok di sana, maka Bupati Nunukan dengan surat No: P/452/BPPD/-11/185.5 Kepada Bapak Gubernur Kalimantan Utara untuk permohonan Pasokan Barang Kebutuhan Pokok Di wilayah Perbatasan Krayan.
Kemudian telah ditindaklanjuti dengan surat Gubernur Kalimantan Utara Nomor : 510/1161/DPPK-UKM/GUB kepada Datuk Patinggi Abang Haji abdul Rahman Zahari Bin Tun Abang Haji Openg, yang kemudian diberlakukan dengan program kerjasama G to G yang hanya menunjuk 1 Badan Usaha dari masing-masing negara.
“Jadi, sejak ditutup selama pandemi, terjadi kenaikan harga yang sangat tinggi melalui program kerjasama G to G tersebut,” katanya.
Dijelaskannya, adapun harga barang Malaysia (non subsidi) yakni gula dan minyak goreng harga dari Lawas Sabah Malaysia Rp 12 ribu sedangkan harga barang tersebut setelah di Koperasi Mitra Utama Kaltara Di Long bawan yakni Rp 25- 28 ribu per kg/Liter.
“Ada kenaikan harga yang tinggi, begitu juga dengan harga gas elpiji, semen, solar, atap seng di koperasi tersebut,” ungkapnya.
Dior menambahkan, saat Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching, Sarawak Malaysia telah melakukan kunjungan kerja di perbatasan Long Midang, Kecamatan Krayan pada 1 Juli 2022. Sejumlah aspirasi telah disampaikan masyarakat Kepada KJRI.
“Saat kunjungan tersebut, aspirasi telah disampaikan oleh Kepala adat Krayan yakni Rining Liang dan pengusaha UKM di Krayan yakni Mescanter yang telah disampaikan langsung kepada Konsul RI Sarawak R. Sigit Wicaksono,” bebernya.
Adapun aspirasi yang telah disampaikan yakni mendorong agar pembukaan kembali exit/entry point long Midang -Ba’kelalan sebagai pintu perlintasan perdagangan Tradisional bagi masyarakat Krayan.
Selain itu, mereka meminta diberlakukan kembali kesepakatan BTA 1970 bagi perdagangan antar dua negara, untuk menjual hasil pertaniannya dan dapat membeli kebutuhan bahan pokoknya di Malaysia baik melalui Koperasi maupun pedagang pribadi di kedua perbatasan.
Dari hasil pertemuan tersebut, Dior mengungkapkan pentingnya Ketersediaan bahan pokok untuk wilayah dataran Krayan di 5 kecamatan untuk 10.874 jiwa penduduk.
“Perlunya perhatian khusus dan kemudahan bagi masyarakat di wilayah Perbatasan Krayan karena belum tersedianya Transportasi darat dari wilayah Kalimantan Utara dan saat ini masih bergantung dengan menggunakan ketersediaan bahan pokok dari negara Malaysia,” pungkasnya. (*)
Reporter : Novita A.K
Editor : Ramli







