benuanta.co.id, NUNUKAN – Waktu yang dinantikan Thimonteus Enti, S.Pd, selama bertahun-tahun sebagai guru honorer tiba sudah. Pasalnya hari ini Surat Keputusan (SK) pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) telah diterimanya, usai diserahkan Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid, Senin 4 April 2022 pagi.
Guru berusia 52 tahun ini merupakan warga Nusa tenggara timur (NTT) yang mencari peruntungan di Kalimantan Utara (Kaltara), tepatnya di wilayah perbatasan yakni Kabupaten Nunukan. Hampir 20 tahun juga ia menjalani profesinya sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ di Nunukan.
Thimonteus menceritakan, ia sempat mengabdi di SD Negeri 005 Atap, Kecamatan Sembakung, sejak tahun 2004 hingg 2009. Setelah itu pindah dan lanjut mengabdi sebagai guru di Kecamatan Tulin Onsoi Desa Sekikilan, sejak tahun 2009 hingga saat ini.
Sebelum lolos PPPK bersama 158 guru honorer lainnya, ia mengaku sempat ikut sejumlah tes tenaga honerer kategori 2 (K2) namun saat itu belum lulus dan kembali mencoba untuk mengikuti tes PPPK.
“Sekarang baru bisa ikut, kesempatan pemerintah kasih akhirnya bisa lulus,” kata Thimonteus kepada benuanta.co.id.

Selama dua dekade lamanya mengajar di wilayah perbatasan, ia menyebut anak-anak di daerah tersebut sangat membutuhkan sosok guru yang bisa mendidik. Kepada pemerintah, ia juga berharap agar ada perhatian lebih kepada sektor pendidikan di wilayah perbatasan.
Menurutnya anak-anak diperbatasan jika tidak dididik akan menjadi anak keterbelakangan oleh dunia pendidikan, karena wilayah perbatasan sangat terpencil dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jumlah siswa di SD Negeri 003 di Kecamatan Tulin Onsoi, Desa Sekikilan sendiri diketahui sebanyak 87 orang.
“Dari tempat tinggal saya menju sekolah menghabiskan waktu satu jam lebih perjalanan, dengan jarak tempuh sekitar 34 kilometer,” jelasnya.
Selama ini, kata Thimonteus, akses jaringan telpon atau internet tidak pernah dirasakan di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Apalagi pemerintah menetapkan pembelajaran secara daring selama pandemi.
Namun sayangnya hal tersebut tak berlaku lantaran guru di wilayah tersebut tetap memutuskan untuk datang ke rumah anak didiknya agar bisa memberikan materi pelajaran.
“Akses internet sulit didapatkan,” terangnya.
Melihat tidak adanya jaringan Thimonteus sangat berharap kepada Diskominfo agar bisa memberikan akses internet di wilayah perbatasan yang sangat terpencil, agar dapat mengikuti kegiatan yang diprogramkan oleh pemerintah. (*)
Reporter: Darmawan
Editor : Yogi Wibawa







