benuanta.co.id, NUNUKAN – Nama Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sei Nyamuk menjadi perbincangan masyarakat di Kecamatan Sebatik Utara, tepatnya di Desa Sei Pancang. Saat ini tengah diusulkan namanya agar tidak memakai nama suatu wilayah.
Camat Sebatik Utara, Zulkifli mengatakan pembangunan PLBN ini prosesnya panjang mulai dari pembebasan lahan hingga namanya. PLBN ini dasarnya Impres nomor 1 tahun 2019 yang saat itu namanya PLBN Sei Nyamuk. Hal tersebut menjadi pertentangan di Sebatik Utara.
“Sudah berkali-kali diusulkan agar namanya diubah namun belum mendapatkan respon,” kata Zulkifli kepada benuanta.co.id, Jumat (28/1/2022).
Melalui rapat yang dilakukan oleh masyarakat, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) meminta rekomendasi 5 camat di pulau Sebatik, setelah itu ke Bupati Nunukan, sehingga disampaikan ke Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP).
“Saya mendapatkan informasi PLBN Sei Nyamuk agar bisa direkomendasikan agar dirubah,” jelasnya
Dia berharap nama yang nantinya akan dirubah bisa dikenal, sehingga tidak menyebutkan satu lokasi atau wilayah, karena selama ini agak rancu. Sebenernya posisi PLBN berada di Kecamatan Sebatik Utara, Desa Sei Pancang, bukan di Kecamatan Sebatik Timur, Desa Sei Nyamuk. Jika namanya Sebatik tidak masalah.
Sebenarnya nama PLBN Sei Nyamuk yang saat itu digunakan oleh kementerian atau BNPP masih mengikuti nama pelabuhan sebelumnya atau Sabandar yang bernama KSOP Sei Nyamuk. Oleh karena itu, saat ini warga protes nama PLBN tersebut.
“Ini sudah beda desa, beda kecamatan, membuat masyarakat menjadi protes nama PLBN tersebut” jelasnya.
Pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Bupati termasuk ke depannya KSOP nanti akan diubah tidak lagi menggunakan Sei Nyamuk, kemungkinan besar namanya akan menjadi KSOP Sebatik dan begitu juga PLBN.
PLBN ini diharapkan dapat menjadi cikal bakal pusat kegiatan ekonomi di wilayah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) di Kabupaten Nunukan agar mendorong pemerataan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Pembangunan PLBN ini dianggarkan sebesar Rp 226,18 miliar. (*)
Reporter: Darmawan
Editor: Matthew Gregori Nusa







