NUNUKAN – Perjuangan salah seorang tenaga pendidik di SDN 012 Binusan Dalam, Kabupaten Nunukan patut diapresiasi. Sebagai seorang guru honorer dan wilayah sekolah yang terletak di perbatasan Indonesia – Malaysia, namun tetap gigih mengabdi demi mencerdaskan anak bangsa.
Dia adalah Santi, sudah mengajar di SDN 012 Binusan Dalam selama 6 tahun. Sebagai guru honorer, dirinya digaji Rp1 juta per bulan. Meski bergaji kecil, Santi ternyata tak mempermasalahkannya.
Bagi dia, memberikan ilmu kepada murid-muridnya jauh lebih penting dibanding upahnya sebagai honorer. Sebab, ia percaya suatu saat nanti dirinya akan menjadi PPPK bila diberi kesempatan lulus seleksi.
“Saya sempat ditolakan waktu melamar di SD Negeri 012 menjadi guru pembantu. Karena muridnya sedikit, otomatis Dana BOS juga sedikit pasti gajinya juga sangat terbatas. Saya tidak mempermasalahkan gaji,” kata Santi, Ahad (30/5/2021).
Santi diterima di SDN 012 pada Januari 2015 dan mulai mengajar di kelas 1. Namun pembelajaran di sekolah terhenti selama pandemi Covid-19. Ia harus lebih ekstra memberikan pendidikan, dengan mendatangi satu persatu rumah muridnya.
Tantangannya sebagai pengajar di wilayah terpencil adalah kondisi Medan, listrik, dan jaringan komunikasi. Santi harus menempuh jarak 4 hingga 13 kilo setiap kali bertandang ke rumah muridnya.
Belum lagi jika musim penghujan, jalan pasti licin. Malam harinya, listrik di desa ini tak ada begitu juga dengan jaringan komunikasi. Santi harus lebih ekstra untuk memberikan ilmu kepada murid-muridnya.
“Karena warga di sini pekerja rumput laut, mengikat tali dan malam baru pulang. Orang tua mereka mengeluhkan capek sehingga tidak sempat mengajar anak-anaknya. Banyak orang tua murid menyarankan agar anaknya ini bisa sekolah lagi,” ucapnya.
Santi juga menceritakan menjadi guru adalah salah satu hobi dan cita-citanya dari kecil.
“Jika ada pembukaan pegawai pemerintah dengan perjanjian kontrak (PPPK) honorer nantinya saya akan mencoba ikut,” paparnya. (*)
Reporter: Darmawan
Editor : Nicky Saputra







