benuanta.co.id, NUNUKAN – Ribuan warga di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, saat ini menghadapi krisis air bersih yang kian memprihatinkan. Kondisi ini telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir dan berdampak langsung pada kebutuhan dasar masyarakat.
Sejumlah wilayah di Sebatik dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih, baik dari jaringan PDAM maupun sumber air alami. Warga terpaksa membeli air dengan harga tinggi atau memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang warga Desa Sungai Nyamuk, Sebatik Timur, Rahman (38), mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk mandi, mencuci, hingga memasak.
“Kami harus beli air tangki, harganya bisa sampai Rp150 ribu per tangki. Kalau tidak, ya menunggu hujan,” ujar Rahman pada Rabu, (08/04/26).
Krisis ini diduga dipicu oleh kekeringan yang mulai melanda wilayah tersebut, sehingga menyebabkan menurunnya debit air secara drastis. Kondisi ini juga diperparah dengan terbatasnya infrastruktur distribusi air bersih di wilayah perbatasan.
Akibat desakan kebutuhan air yang mendesak, sejumlah warga dilaporkan nekat membuka paksa pintu embung untuk mendapatkan akses air. Tindakan tersebut dilakukan karena warga sudah tidak memiliki pilihan lain di tengah sulitnya pasokan air bersih.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Nunukan, Abdi Jauhari, mengimbau masyarakat agar tidak merusak fasilitas umum.
“Pembukaan pintu embung secara paksa dapat mengganggu sistem distribusi air dan berpotensi memperparah kondisi yang ada,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Perumda Air Minum Tirta Taka Nunukan, Arpiansyah, menyampaikan bahwa pihaknya tengah berupaya maksimal menangani kondisi darurat tersebut.
“Kami sudah menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki ke sejumlah wilayah terdampak. Distribusi dilakukan secara bergilir sesuai tingkat kebutuhan,” jelasnya.
Pemerintah daerah juga tengah menyiapkan langkah jangka panjang, seperti pembangunan embung tambahan serta peningkatan jaringan distribusi air bersih di wilayah Sebatik.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk menghemat penggunaan air dan menjaga fasilitas yang ada agar tetap berfungsi dengan baik selama masa krisis berlangsung.
Krisis air bersih di Sebatik ini kembali menjadi perhatian serius, mengingat wilayah perbatasan tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai.
Warga berharap pemerintah segera menghadirkan solusi permanen agar persoalan air bersih tidak terus berulang setiap musim kemarau di perbatasan. (*)
Reporter: Soni Irnada
Editor: Ramli







