Stabilitas Harga Terjaga, Inflasi Nunukan pada Maret 2026 Terendah di Kaltara

benuanta.co.id, NUNUKAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan melaporkan kondisi ekonomi daerah yang tetap stabil pada periode Maret 2026.

Berdasarkan rilis terbaru, inflasi di Kabupaten Nunukan tercatat sebesar 1,96 persen secara tahunan (year-on-year), angka ini menempatkan Nunukan sebagai wilayah dengan tingkat inflasi terendah di Provinsi Kalimantan Utara.

Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Iskandar Ahmaddien menyatakan, meski terjadi kenaikan harga pada beberapa kelompok pengeluaran, secara umum kondisi ekonomi di wilayah perbatasan ini masih dalam kategori sangat terkendali.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Kabupaten Nunukan pada bulan Maret berada di level 111,09, dengan tingkat inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,53 persen.

“Keberhasilan Nunukan dalam menjaga ritme harga terlihat cukup signifikan jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Kalimantan Utara,” kata Iskandar.

Sebagai perbandingan, pada periode yang sama, inflasi tahunan di Tanjung Selor menyentuh angka 3,06 persen, sementara Kota Tarakan tercatat lebih tinggi yakni 3,81 persen.

“Inflasi Kabupaten Nunukan pada Maret 2026 masih relatif rendah dan terkendali. Ini menunjukkan stabilitas harga di daerah tetap terjaga, meskipun terdapat kenaikan pada beberapa kelompok pengeluaran,” ujar ungkapnya.

Secara rinci, inflasi tahunan di Nunukan terutama dipicu oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Sektor lain yang turut memberikan andil adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga serta sektor penyediaan makanan dan minuman atau restoran.

Di sisi lain, masyarakat sedikit terbantu dengan adanya penurunan harga pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang memberikan andil negatif terhadap laju inflasi.

Diungkapkannya, jika melihat rekam jejaknya, inflasi di Nunukan sepanjang tahun 2025 tergolong stabil di kisaran 1,7 hingga 2,2 persen. Meskipun sempat mengalami tekanan kenaikan harga pada awal tahun 2026, memasuki bulan Maret angka inflasi kembali melandai ke 1,96 persen.

Penurunan ini menjadi sinyal kuat bahwa tekanan harga di pasar mulai mereda. “Kita menilai kondisi ini sebagai indikator positif bahwa daya beli masyarakat Nunukan masih terjaga dengan baik,” jelasnya.

Namun demikian, pihak BPS mengingatkan perlunya kewaspadaan berkelanjutan terhadap komoditas kebutuhan pokok dan konsumsi rumah tangga yang kerap menjadi motor penggerak inflasi.

Ia menegaskan BPS Nunukan berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan harga secara berkala guna menyajikan data statistik yang akurat.

“Data ini diharapkan menjadi fondasi bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengendalian harga yang tepat sasaran,” pungkasnya. (*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *