benuanta.co.id, NUNUKAN– Suara gemericik air yang jatuh dari ketinggian, berpadu dengan rimbunnya pepohonan, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung Air Terjun Binusan di Pulau Nunukan.
Dalam beberapa bulan terakhir, terutama saat libur Lebaran, destinasi ini semakin ramai dikunjungi wisatawan.
Peningkatan jumlah pengunjung terasa signifikan. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 1.775 orang mengunjungi Air Terjun Binusan.
Dari jumlah tersebut, 1.353 merupakan pengunjung dewasa, sementara 422 lainnya adalah anak-anak. Angka ini bukan sekadar statistik. Jika dibandingkan dengan total kunjungan sepanjang tahun 2025 yang mencapai 2.892 orang, capaian tiga bulan pertama tahun ini sudah menyentuh lebih dari separuhnya.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Nunukan, H. Sura’i, mengatakan melihat tren ini sebagai sinyal positif meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata lokal.
“Minat masyarakat terhadap objek wisata lokal terus meningkat, terutama saat libur panjang seperti Lebaran. Kami sangat bersyukur karena wisata Nunukan semakin diminati,” ujarnya.
Tak hanya Air Terjun Binusan, sejumlah destinasi lain juga mulai menarik perhatian. Batu Lamampu di wilayah Sebatik menawarkan panorama perbatasan yang unik, sementara Pantai Ecing menghadirkan pesona laut yang menenangkan.
Di sisi lain, kawasan mangrove menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin menikmati wisata berbasis alam sekaligus edukasi lingkungan. Menariknya, dari total 76 objek wisata di Kabupaten Nunukan, hanya dua yang berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten, yakni Air Terjun Binusan dan kawasan mangrove di Kelurahan Nunukan Selatan.
Selebihnya dikelola oleh desa atau pihak lain, menunjukkan peran aktif masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata daerah.
Dampak dari meningkatnya kunjungan ini pun mulai dirasakan. Aktivitas ekonomi di sekitar kawasan wisata ikut bergerak. Rumah makan, penginapan, hingga pelaku usaha kecil mendapatkan berkah dari ramainya wisatawan.
Meski demikian, aspek keselamatan tetap menjadi perhatian utama. Beberapa destinasi memiliki karakteristik alam yang berisiko, seperti sungai, air terjun, hingga kawasan pantai.
Sehingga, Disbudporapar menempatkan petugas di berbagai titik guna memastikan kebersihan dan keamanan tetap terjaga. “Keselamatan pengunjung adalah prioritas kami. Untuk lokasi tertentu seperti Pantai Ecing, kami juga bekerja sama dengan Satpol PP agar aktivitas wisata tetap aman,” tambah Sura’i.
Dengan tren yang terus meningkat, harapan besar pun disematkan pada sektor pariwisata Nunukan. Daerah yang selama ini dikenal sebagai wilayah lintasan di perbatasan, perlahan mulai menegaskan diri sebagai destinasi tujuan.
Pemerintah daerah pun optimistis, wisatawan dari luar daerah, bahkan mancanegara seperti dari Tawau, Malaysia, tidak hanya sekadar singgah, tetapi juga memilih untuk tinggal lebih lama.
“Target kami, Nunukan bisa menjadi destinasi singgah. Wisatawan datang, bermalam, menikmati kuliner lokal, dan merasakan langsung potensi wisata yang kami miliki,” pungkasnya. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Endah Agustina







