benuanta.co.id, NUNUKAN – Pasca Hari Raya Idulfitri 1447 H, aktivitas perdagangan di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Nunukan, khususnya Pasar Jamaker dan Pasar Inhutani, terpantau masih sepi.
Dari hasil pantauan dilapangan, sebagian besar lapak pedagang, terutama komoditas konveksi dan barang pecah belah masih tertutup rapat.
Siti, salah satu pedang di Pasar Jamaker Nunukan mengatakan, sepinya pengunjung disebabkan masih banyaknya warga yang melakukan silaturahmi ke luar daerah atau sedang dalam perjalanan arus balik. Selain itu, daya beli masyarakat cenderung menurun setelah pengeluaran besar-besaran menjelang hari raya.
“Biasanya seminggu setelah Lebaran baru normal lagi. Sekarang yang buka paling hanya penjual sayur dan ikan, itu pun pembelinya masih jarang,” ujar Siti.
Kendati masih sepi, namun untuk harga sejumlah kebutuhan pokok yang sempat melambung tinggi sebelum Lebaran kini mulai menunjukkan tren penurunan. Pasokan barang dari Sulawesi dan Surabaya yang tiba melalui kapal Pelni dan swasta membantu menstabilkan harga di perbatasan.
Untuk harga cabai rawit yang sempat menyentuh harga Rp 120 hingga Rp 150 per kilogram kini sudah turun menjadi Rp 75 ribu per kilo. Begitu juga dengan harga bawang merah kini sudah normal menjadi Rp 35 hingga Rp 40 ribu per kilogram.
“Kalau kenaikan harga itu tergantung dari Sulawesi. Karena barang kita dari sana, kalau di sana naik otomatis harga di sini juga ikut naik,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan DKUKMPP Nunukan, Dior mengatakan pihaknya akan tetap melakukan pemantauan rutin untuk memastikan tidak ada spekulasi harga di tengah kondisi pasar yang masih sepi ini.
“Hari ini baru kita mulai turun ke lapangan cek harga barang, datanya masih kita olah,” pungkasnya. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Endah Agustina







