NUNUKAN – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) kaltara Mengatakan saat ini Indonesia dalam situasi darurat narkoba seperti di Kaltara, yang memiliki daerah kerawanan dan kerentanan tinggi terhadap peredaran gelap narkoba.
Kepala BNNP Kaltara Brigjen Drs. Henri Simajuntak, MM mengatakan, Berdasarkan data bahwa Kaltara memiliki jalur tikus sebanyak 1.200 jalur, yang memungkinkan masuknya narkoba dari wilayah negara tetangga, yang membentang dari Pulau Sebatik hingga Malinau.
Sedangkan keberadaan pelabuhan rakyat yang tidak resmi lainnya jumlah mencapai ratusan dan menjadi titik rawan jalur lintas Peredaran narkoba.
Sehingga hal ini menjadi perhatian khusus dari BNNP kaltara, mengingat Nunukan khususnya yang berada di pesisir maupun daerah yang berkaitan dengan perbatasan Indonesia Malaysia, seringkali dijadikan tempat transit para pelaku yang mengambil barangnya dari Tawau, Sebatik Nunukan, yang kemudian akan diedarkan ke Tarakan sampai ke daratan Pulau Kalimantan Wilayah lain.
“Nunukan dijadikan salah satu pintu gerbang utama dan garda terdepan Kalimantan Utara untuk mencegah masuknya dan Peredaran narkotika,” kata Henri kepada benuanta.co.id, Sabtu (15/8/2020).
Dia juga jelaskan pada pekan lalu, ada penangkapan sebanyak 25 kg sabu, pada waktu itu kapal yang membawa barang dari Tawau Malaysia namun tidak singgah di Nunukan, namun lasung ke pulau Bunyu.
“Berdasarkan informasi yang kami himpun bahwa Kapal tersebut membawa sabu sebanyak 150 kg sabu, namun yang tertangkap itu hanya 25 kg. Kita tidak tau barang itu beredar kemana apakah beredar ke daerah Sulawesi Utara, ke Gorontalo kemungkinan bisa sampai ke daerah Sulawesi Selatan. Jalur yang mereka gunakan adalah jalur dari sekitar Kalimantan Utara,” jelasnya.
Tercatat pengungkapan yang berhasil dilakukan BNNP kaltara hingga bulan Agustus 2020, sebanyak 15,6 kg dari 7 kasus yang berhasil diungkap, data tersebut belum termasuk kasus yang ditangani jajaran Polda Kalimantan Utara, yang sampai bulan Agustus berhasil menggagalkan 29 kg sabu, yang mana sekitar 15 kilogram itu adalah yang diungkap oleh Polres Nunukan. Kemudian yang ditambah lagi dengan yang ditangkap oleh Satgas pamtas sebanyak 7 kilo yang lalu.
“Cukup banyak yang bisa kita tangkap, kita cegah untuk masuk tetapi sesungguhnya dari hasil penyelidikan kita masih banyak yang lolos, kita juga banyak keterbatasan dalam melakukan pencegahan masuknya suplai dari luar Indonesia, namun kita akan terus berupaya agar dalam pengungkapan bisa kita berantas,” jelasnya.
Semua barang yang masuk ke Indonesia terutama sabu-sabu yang singgah melalui negara tetangga yakni Malaysia.
“Barang (sabu-sabu) yang singgah di Malaysia, tidak terlalu laku sehingga tidak ada peminatnya. Berbeda dengan di Indonesia yang sangat laku, dan harga juga sangat mahal. Ini karena permintaannya tinggi,” bebernya. (*)
Reporter: Darmawan
Editor: Ramli







