benuanta.co.id, TARAKAN – Aktivitas Monsun Asia yang masih kuat diperkirakan terus memengaruhi cuaca di Kalimantan Utara (Kaltara) hingga Februari 2026. Kondisi ini membawa banyak uap air yang berpotensi meningkatkan intensitas hujan di sejumlah wilayah, khususnya daerah hulu sungai dan kabupaten di Kaltara.
Masyarakat di wilayah rawan banjir dan longsor diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama setelah pengalaman Januari 2025 yang mencatat curah hujan ekstrem hingga 600 milimeter. Jika kondisi serupa terulang, dampaknya dipastikan akan kembali memicu bencana hidrometeorologi.
Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi menjelaskan, secara umum prediksi curah hujan bulanan Kaltara masih berada pada kategori menengah, yakni sekitar 50 hingga 150 milimeter per bulan. Namun, kondisi ekstrem tetap bisa terjadi sewaktu-waktu.
“Kalau sampai terjadi seperti Januari tahun lalu yang mencapai 600 milimeter, dampaknya tentu banjir, longsor, angin kencang, hingga gelombang tinggi,” ujarnya, Rabu (31/12/2025).
Ia menambahkan, awan hujan konvektif yang berkembang pada periode monsun kerap disertai lepasan energi kuat berupa angin kencang. Situasi ini berisiko memicu pohon tumbang serta meningkatkan ketinggian gelombang laut, terutama bagi wilayah pesisir dan perairan Kaltara.
Selain hujan, BMKG juga mengingatkan potensi pasang laut atau banjir rob yang dipengaruhi posisi bulan. Pada 2 dan 3 Januari, terjadi fase bulan purnama yang dapat meningkatkan tinggi muka air laut.
“Walaupun tidak setinggi dua bulan lalu, tetap terjadi pasang. Yang perlu diwaspadai itu kalau bersamaan dengan hujan,” katanya.
Wilayah daratan seperti Kabupaten Bulungan dan Malinau disebut memiliki potensi hujan lebih tinggi dibanding Tarakan dalam beberapa hari ke depan. Meski Tarakan diperkirakan hanya mengalami hujan ringan saat malam pergantian tahun, kawasan di hulu sungai tetap perlu diawasi karena hujan di hulu bisa memicu banjir di hilir.
“Di Bulungan misalnya, bisa banjir meskipun tidak hujan di situ, karena hujan terjadi di wilayah hulunya,” jelasnya.
BMKG bersama BPBD dan relawan terus memantau kondisi cuaca dan curah hujan di wilayah hulu. Jika terdeteksi hujan berhari-hari, peringatan dini akan disampaikan kepada masyarakat di daerah hilir agar bersiap menghadapi potensi banjir.
Di sisi lain, peningkatan suhu global juga dinilai memperbesar peluang cuaca ekstrem. Saat ini anomali suhu tercatat mencapai plus 1,1 derajat dari kondisi normal.
“Kenaikan suhu yang terus-menerus ini membuat frekuensi cuaca ekstrem semakin meningkat,” ucapnya.
Terkait kegempaan, ia menyebut Kalimantan tetap memiliki potensi gempa meskipun paling jarang dibanding wilayah cincin api seperti Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara.
Hampir setiap tahun gempa kecil tetap tercatat di Kalimantan, meski sebagian besar tidak terasa.
“Semua lempeng itu bergerak, dan dalam pergerakan itulah energi dilepaskan menjadi gempa,” terangnya.
BMKG mengimbau masyarakat Kaltara untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca cepat, terutama hujan lebat di awal tahun, pasang laut, serta potensi bencana susulan seperti longsor dan angin kencang. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Yogi Wibawa







