Menhut dan Gubernur Kaltara Sebut Mangrove Meningkatkan Produktivitas Tambak

 

benuanta.co.id, TARAKAN – Menteri Kehutanan, Raja Jul Antoni bersama Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. Zainal Arifin Paliwang, menegaskan penanaman mangrove di kawasan tambak justru meningkatkan produktivitas dan menjaga kelestarian lingkungan pesisir.

Hal tersebut diungkapkan Raja Jul Antoni dalam dialog yang dilaksanakan sesuai penanaman 40 bibit mangrove dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah di Desa Liagu, Sabtu (7/2/2026). Tak hanya itu, kegiatan dilanjutkan dengan dialog antar pemerintah dan petani tambak.

Dalam momentum dialog dengan pemerintah, petani diberikan edukasi mengenai manfaat rehabilitasi ekosistem pesisir. Raja Jul Antoni menegaskan, mangrove berperan besar dalam menjaga kualitas lingkungan tambak, termasuk menyerap karbon dan menstabilkan ekosistem perairan.

Baca Juga :  Ketergantungan Pasokan Luar Tinggi, Kebutuhan Telur di Kaltara Capai 25 Ribu Ton per Tahun

“Kalau tambak tidak ada mangrovenya, lama-kelamaan akan rusak. Lingkungan tidak sehat, hasil tambak juga akan menurun,” ujarnya.

Ia mencontohkan praktik yang dilakukan oleh sejumlah petani, seperti Pak Herman dan Ibu Rahayu, yang telah membuktikan penanaman mangrove mampu meningkatkan hasil produksi. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat khususnya petani tambak agar ikut menanam mangrove.

“Ini sudah dipraktikkan di banyak tempat, bahkan di dunia. Dengan mangrove, produktivitas meningkat,” ungkapnya.

Selain itu, para petani juga menyampaikan terkait penyediaan laboratorium untuk mengukur kualitas air. Menurutnya, hal tersebut merupakan salah satu faktor penting karena dapat mempengaruhi kualitas hasil tambak. Namun, laboratorium untuk memantau kualitas air merupakan ranah Dinas Kelautan.

Baca Juga :  652 Pengaduan THR 2023–2025 Belum Tuntas, Ombudsman Desak Pengawasan 2026 Lebih Komprehensif

Ia juga mengapresiasi peran 94 kelompok masyarakat (pokmas) yang terlibat aktif dalam program rehabilitasi mangrove. Tanpa partisipasi masyarakat, program tersebut tidak akan berjalan optimal.

“Kunci keberhasilan program ini adalah kerja sama. Pemerintah punya kewenangan, tapi juga keterbatasan. Solusinya adalah bekerja bersama,” tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Zainal Arifin Paliwang menegaskan informasi yang menyebutkan tambak akan diambil alih oleh pemerintah setelah ditanami mangrove adalah informasi menyesatkan. Ini ia tegaskan setelah mendengarkan penyampaian petani tambak. Sebagian besar masyarakat enggan menanam mangrove karena hal tersebut.

Baca Juga :  Verifikasi Data, Dinsos Kaltara Tegaskan Penonaktifan BPJS PBI Hanya Sementara

“Itu tidak mungkin. Ini malah menguntungkan pemilik tambak. Hasilnya sudah terbukti berbeda setelah ada mangrove,” tegasnya.

Menurut Gubernur Zainal, penanaman mangrove merupakan bagian dari upaya jangka panjang menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir sekaligus melindungi lingkungan.

Melalui dialog ini, pemerintah berharap kesadaran petani tambak terhadap pentingnya mangrove semakin meningkat, sehingga tercipta keseimbangan antara produktivitas ekonomi dan kelestarian lingkungan pesisir. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *