benuanta.co.id, TARAKAN – Viral kasus seorang pelajar di Kalimantan Utara yang diduga terlibat dalam peredaran narkoba turut menjadi perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdik) Kaltara. Pihaknya menilai peristiwa ini cukup meresahkan, meski hanya melibatkan oknum dari ribuan pelajar di daerah tersebut.
Kasi Pembina SMA Disdik Kaltara, Hanni menyebutkan jumlah pelajar SMA-SMK di Kaltara periode 2020-2025 mencapai 10.565 orang. Dari jumlah tersebut, hanya satu pelajar yang terlibat kasus peredaran narkoba. “Yang meresahkan karena dia mengedarkan ke teman-temannya juga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kekhawatiran utama adalah kemungkinan penyalahgunaan narkoba menyebar di lingkungan sekolah.Namun, hasil screening yang dilakukan Dinas Kesehatan bersama BNN Kota dan Provinsi Tarakan menunjukkan seluruh sampel pelajar maupun tenaga pendidik yang diperiksa negatif narkoba.
“Sebanyak 401 siswa SMA Negeri 1 Tarakan yang dijadikan sampel, hasilnya semua negatif,” ungkapnya.
Disdik Kaltara, lanjutnya, telah mengimbau setiap satuan pendidikan untuk memberikan kegiatan positif kepada siswa agar tidak terjerumus ke hal-hal negatif. Menurutnya, usia SMA merupakan fase rentan mencari jati diri sehingga penting adanya edukasi yang berkesinambungan.
Sejak awal masuk sekolah, siswa sudah dibekali materi pencegahan melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Dalam kegiatan tersebut, pihak kepolisian dan BNN biasanya menjadi narasumber untuk memberikan materi terkait bahaya judi online maupun narkoba. Beberapa sekolah bahkan sudah menerapkan tes urine bagi siswa baru sebagai langkah antisipasi.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi anak-anaknya. Dari 24 jam waktu yang dimiliki anak, sekolah hanya berperan delapan jam. “Fungsi orang tua yang harus diperkuat. Sekolah hanya melanjutkan, sementara pembentukan karakter utama tetap dari rumah,” tegasnya.
Hanni juga menyebut, meski sekolah sudah dilengkapi CCTV dan sistem pengawasan, tidak mungkin guru bisa mengawasi siswa di setiap waktu, terutama di luar jam pelajaran. Karena itu, kolaborasi dengan keluarga menjadi faktor penting dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.
Apabila ada indikasi siswa menyalahgunakan narkoba, pihak sekolah biasanya mengamati perubahan perilaku, prestasi, hingga sikap siswa. Jika terdeteksi, satuan pendidikan berinisiatif mengundang BNN untuk melakukan tes urine secara khusus pada siswa yang dicurigai.
“Harapan kami, kasus ini yang terakhir dan tidak ada lagi pelajar yang terjerumus ke hal serupa,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Ramli







