benuanta.co.id, TARAKAN – Kerusakan Movable Bridge (MB) atau jembatan hidrolik di Pelabuhan Penyeberangan Juata, Kota Tarakan, berdampak pada terganggunya proses bongkar muat penumpang dan kendaraan kapal ferry.
Kondisi ini membuat jadwal pelayaran harus menyesuaikan pasang surut air.
Kepala Perwakilan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Balikpapan wilayah Tarakan, Abd. Gafur, mengatakan gangguan tersebut cukup dirasakan oleh pengguna jasa. Ia menjelaskan, penumpang yang seharusnya dapat segera berangkat atau pulang harus tertahan karena kapal tidak bisa melakukan proses embarkasi secara normal.
“Kalau dari dampak pengguna jasa sangat mengganggu. Yang tadinya sudah mau pulang, sudah sampai di pelabuhan, kapal tidak bisa langsung berangkat karena tidak bisa embarkasi. Jadi harus menunggu pasang surut air,” ujarnya, Kamis (2/3/2026).
Ia menerangkan, kondisi ini memaksa operator kapal menyesuaikan jadwal keberangkatan dengan kondisi air laut. Padahal, dalam kondisi normal, kapal dapat beroperasi lebih fleksibel tanpa ketergantungan tinggi terhadap pasang surut.
Menurutnya, gangguan pada MB sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Ia menyebut kerusakan sudah muncul sejak 2023, sempat membaik, namun kembali bermasalah pada Desember 2025 dan kembali terjadi saat periode angkutan Lebaran 2026.
“Waktu Natal dan Tahun Baru kemarin sempat bagus. Kita sudah senang, tapi pas angkutan Lebaran ini stuck lagi,” jelasnya.
Gafur menambahkan, pihaknya sebagai operator siap memberikan dukungan apabila diperlukan, termasuk penyediaan teknisi dari PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Namun, pengiriman teknisi menunggu permintaan resmi dari pihak pengelola pelabuhan.
“Kalau memang butuh teknisi, kami siap bantu. Tinggal kirim surat resmi, nanti kami kirimkan teknisi,” katanya.
Gafur berharap perbaikan dapat segera dilakukan agar pelayanan kembali normal. “Harapannya lebih cepat lebih baik,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala UPTD Pelabuhan Penyeberangan Juata, Firmansyah, membenarkan kerusakan tersebut. Ia menjelaskan, penyebab utama gangguan berasal dari seal silinder hidrolik yang mengalami kerusakan sehingga MB tidak dapat bergerak.
“Iya, sedang rusak. Ini kami masih mencari teknisi untuk memperbaiki,” singkatnya.
Ia menuturkan, kendala utama dalam perbaikan adalah tidak tersedianya teknisi khusus yang mampu menangani MB di Tarakan. Meski anggaran perawatan rutin tersedia setiap tahun, seperti penggantian oli dan pemeliharaan berkala, perbaikan spesifik tetap membutuhkan tenaga ahli.
Akibat kerusakan tersebut, operasional pelabuhan tidak berhenti, namun proses bongkar muat menjadi terhambat. Saat ini, pelayanan dilakukan dengan menunggu kondisi air laut agar kapal tetap bisa sandar dan melakukan aktivitas terbatas.
Firmansyah menyebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kota Tarakan serta berupaya meminta dukungan teknisi dari PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Selain itu, komunikasi juga dilakukan dengan pelabuhan lain seperti Sebatik yang pernah mengalami kasus serupa.
“Solusinya kami minta support teknisi dari PT ASDP dan juga komunikasi dengan pelabuhan lain yang pernah mengalami kerusakan seperti ini,” ungkapnya.
Dalam kondisi normal, pelabuhan ini melayani sekitar 200 penumpang per hari, dengan 20 unit mobil dan 40 sepeda motor. Meski disebut tidak berdampak signifikan terhadap ekonomi, keterlambatan bongkar muat tetap dirasakan oleh pengguna jasa, termasuk pengangkut barang. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







