BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Panjang, Kaltara Waspadai Dampak Kiriman

benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau secara bertahap mulai April hingga Juni 2026, dengan karakter yang lebih kering, lebih panas, dan berdurasi lebih panjang dari kondisi normal.

Dalam rilis resminya, BMKG menyebutkan awal musim kemarau akan dimulai pada April di 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3 persen wilayah, meningkat pada Mei sebanyak 184 ZOM (26,3 persen), dan Juni sebanyak 163 ZOM (23,3 persen). Pergerakan musim kemarau diawali dari wilayah Nusa Tenggara dan meluas ke sebagian besar Indonesia.

BMKG juga mencatat sebanyak 46,5 persen wilayah diprediksi mengalami awal kemarau lebih cepat dari normal, sementara 23,7 persen lainnya masih sesuai pola klimatologis. Dari sisi curah hujan, mayoritas wilayah atau 64,5 persen diperkirakan mengalami kondisi di bawah normal, yang berarti lebih kering dibanding biasanya.

Baca Juga :  Produksi Padi Kaltara Naik Tajam pada 2025

Puncak musim kemarau sendiri diprediksi terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Selain itu, sekitar 57,2 persen wilayah diprakirakan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dari normal.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, mengatakan kondisi ini perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.

“Mulai April sampai September, banyak wilayah di Indonesia yang memasuki musim kemarau. Tahun ini diprediksi lebih panjang dan lebih panas,” ujarnya.

Namun demikian, Khilmi menjelaskan bahwa kondisi di Kalimantan Utara, khususnya Tarakan, memiliki karakteristik berbeda karena termasuk wilayah dengan curah hujan sepanjang tahun.

Baca Juga :  Arus Balik Lebaran, 1.265 Penumpang Berangkat dari Bandara Juwata Tarakan

“Tarakan ini hari tanpa hujannya pendek. Secara statistik maksimal hanya lima hari tanpa hujan, jarang lebih dari itu,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi panas pada siang hari yang sering dirasakan masyarakat merupakan dampak dari proses pemanasan permukaan oleh sinar matahari yang memicu penguapan dan pembentukan awan.

“Siang hari panas karena penyinaran matahari, termasuk ke laut. Itu memicu penguapan dan pembentukan awan. Dalam beberapa kejadian, ini bisa menyebabkan hujan di malam hari,” terangnya.

Kendati demikian, ia mengingatkan potensi hujan tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti kandungan uap air dan tingkat kejenuhan udara.

Baca Juga :  Wakil Menteri Sarawak Dorong Pembangunan Fasilitas Perbatasan di Malaysia, Wagub Kaltara: Sinyal Positif untuk Perekonomian

Lebih lanjut, Khilmi menekankan bahwa ancaman utama bagi Kalimantan Utara justru berasal dari dampak tidak langsung, yakni kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di daerah lain.

“Secara historis, ketika wilayah lain seperti Kaltim dan Kalsel mengalami karhutla, Kaltara biasanya ikut terdampak, terutama dari asap,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga menyebutkan terdapat beberapa wilayah di Kalimantan Utara yang memiliki karakteristik musim kemarau lebih jelas, seperti Pulau Sebatik, Pulau Nunukan, dan Tanjung Palas Timur di Kabupaten Bulungan.

“Wilayah seperti Tanjung Palas Timur itu memang punya musim kemarau. Di sana sering muncul hotspot saat kemarau dan berdampak ke masyarakat sekitar,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *