benuanta.co.id, TARAKAN – Di tengah keterbatasan konektivitas jaringan di wilayah perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara), jaringan internet satelit Starlink masih menjadi alternatif andalan bagi sejumlah desa blank spot.
Pemerintah Provinsi melalui DKISP Kaltara mencatat setidaknya ada 14 hingga 15 titik Starlink aktif yang telah dipasang dan masih berfungsi dengan baik hingga kini.
Kepala Bidang Aplikasi Informatika (Aptika) DKISP Kaltara, Deddy Harryady, menyebutkan pemasangan Starlink dilakukan berdasarkan prioritas wilayah yang masih tidak terjangkau jaringan konvensional.
“Kami hanya bisa pasang sekitar 14 atau 15 titik karena keterbatasan anggaran. Itu semua ditempatkan di desa-desa perbatasan yang benar-benar blank spot,” jelas Deddy, Rabu (30/7/2025).
Ia menambahkan bahwa meskipun saat ini layanan pemasangan baru Starlink telah dibatasi secara nasional, unit yang sudah aktif sebelumnya masih tetap berjalan normal.
“Starlink itu sebenarnya tidak di-off-kan sepenuhnya. Kalau sudah pernah dibuat akunnya dan titiknya sudah aktif, itu tetap bisa digunakan. Yang tidak bisa sekarang adalah pembelian atau pendaftaran baru,” ungkapnya.
DKISP saat ini masih menunggu regulasi terbaru dari Telkom terkait penggunaan jaringan satelit ke depan. Menurut Deddy, Telkom memiliki peran dalam penyediaan spektrum dan regulasi satelit radio di Indonesia.
“Jadi kalau nanti tidak bisa tambah Starlink lagi, kami akan menunggu arahan Telkom soal alternatif lainnya. Tapi yang sekarang masih aman dan berfungsi,” ucapnya.
Lebih lanjut, Deddy mengungkapkan bahwa Starlink memiliki dashboard pemantauan yang bisa digunakan untuk mengevaluasi jumlah pengguna dan intensitas pemakaian di masing-masing titik.
Hasil evaluasi menunjukkan penggunaan Starlink cukup tinggi di beberapa daerah seperti Bulungan.
“Di Bulungan penggunaannya lumayan banyak. Sementara di Nunukan dan daerah lain mungkin lebih sedikit. Itu tergantung jumlah penduduk dan kebutuhan setempat,” ujarnya.
Kendati demikian, kebutuhan konektivitas di Kaltara masih tergolong tinggi. Menurut Deddy, jika anggaran memungkinkan, DKISP berencana menambah titik koneksi di desa-desa yang masih belum terjangkau.
“Kalau ditanya kebutuhan, ya banyak. Karena desa-desa di perbatasan seperti Malinau dan Nunukan itu masih sangat membutuhkan akses internet. Tapi kita sesuaikan dengan jumlah desa blank spot yang sudah diverifikasi,” terangnya.
Meski belum bisa dipastikan jumlah penambahan ke depan, Deddy menegaskan bahwa program ini akan tetap berlanjut. “Yang jelas yang ada sekarang 14 titik, dan akan terus kita lanjutkan sesuai kebutuhan dan anggaran,” tutupnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Ramli







