benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H., M.Hum., dan Wakil Gubernur, Ingkong Ala, S.E., M.Si., turut hadir dalam demonstrasi kedua yang dilakukan oleh Mahasiwa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang datang dari berbagai daerah seperti Nunukan, Tarakan, Bulungan, hingga Berau, di depan Mapolda Kalimantan Utara (Kaltara), Senin (21/7/2025).
Demonstrasi ini sebagai bentuk respons masyarakat yang diwakili mahasiswa atas kasus narkotika yang melibatkan beberapa oknum polisi di lingkungan Polda Kaltara.
Menanggapi aksi tersebut, Gubernur Zainal mengapresiasi langkah dari mahasiswa yang bersikeras menekankan pemberantasan narkotika di Bumi Benuanta. Namun, apa yang terjadi di tubuh Polda Kaltara saat ini merupakan ulah dari oknum.
“Saya minta adik-adik mahasiswa tetap tertib. Kapolda sudah mengambil tindakan terhadap anggotanya, dua di antaranya sudah dipecat. Tapi saya akui, memang selalu ada oknum di setiap instansi,” jelas Gubernur Zainal.
Zainal menanggapi insiden mahasiswa yang terbakar akibat percikan BBM merupakan hal yang tidak disengaja dan tidak diinginkan terjadi. Menurutnya, hal ini menjadi penting agar ke depan ada keberanian semua pihak, termasuk mahasiswa, untuk melaporkan praktik peredaran narkoba. “Jangan hanya bebankan kepada Polri atau BNNP, ini musuh kita bersama,” katanya.
Sementara itu, Kapolda Kaltara Irjen Pol Hary Sudwijanto, menjelaskan komitmen pemberantasan narkoba sudah ia niatkan sebelum menjabat sebagai Kapolda Kaltara. Dimulai dari menyelamatkan wilayah Selumit Pantai, Tarakan yang kerap kali dianggap ‘Mall Narkoba’.
“Saya temukan 185 anak yang tak punya masa kecil. Ada yang putus sekolah sejak SD, tidak pernah tahu dunia luar, tiap hari melihat kejar-kejaran narkoba,” katanya.
Dirinya juga mengaku telah menyita lebih dari 200 kilogram narkoba selama menjabat sejak Agustus 2024, dengan total 277 kasus dan 355 tersangka. Ia juga menjelaskan soal kasus sabu 12 kg yang diduga hendak ditukar dengan tawas.
“Niat menukar itu ada, dan dua anggota saya sudah membongkar gudang barang bukti. Tapi belum sempat tertukar. Ini sudah kami proses, dan keduanya telah kami serahkan ke Kejaksaan,” tegasnya.
Hary menekankan langkah ini bukan karena tekanan publik, melainkan komitmen pribadi atas kecintaannya pada Kaltara. “Kalau karena membela 185 anak itu saya harus mundur, saya siap. Tapi jangan samakan oknum dengan institusi,” pungkasnya. (*)
Editor: Endah Agustina







