Dari naskah yang beredar menjelang pemungutan suara yang dijadwalkan, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dilaporkan mengutuk serangan rudal dan drone Iran terhadap Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania dan menuntut penghentian segera semua serangan.
“Beberapa anggota Dewan berusaha untuk membalikkan peran dan posisi korban dan agresor,” kata Iravani dalam konferensi pers di markas besar PBB di New York tentang pemungutan suara yang akan dilakukan Rabu.
Menurut Iravani rancangan tersebut berusaha untuk memberi penghargaan kepada agresor dan menghukum korban melalui resolusi yang bias dan bermotivasi politik.
“Tindakan seperti itu, jika diadopsi, akan sangat merusak dan melemahkan kredibilitas dan legitimasi Dewan,” katanya, memperingatkan bahwa resolusi tersebut akan memiliki konsekuensi jangka panjang.
“Jika rancangan diadopsi, itu akan mencoreng kredibilitas dan reputasi Dewan Keamanan,” kata Iravani, menambahkan bahwa “jika terjadi, agresor yaitu Israel dan Amerika Serikat akan diberi penghargaan dan didorong untuk melakukan tindakan agresi lebih lanjut.”
Iravani selanjutnya memperingatkan tentang taruhan yang jauh melampaui Iran.
“Hari ini, itu adalah Iran. Besok, bisa jadi negara berdaulat lainnya,” katanya.
“Masyarakat internasional harus bertindak sekarang untuk menghentikan perang berdarah ini terhadap rakyat Iran.”
Ia juga menyoroti korban serangan AS-Israel dan berpendapat bahwa “mereka sengaja dan secara diskriminatif menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil di seluruh negara saya.”
Iravani menyebut ada lebih dari 1.300 korban sipil, selain menghancurkan 9.669 lokasi sipil, termasuk 7.943 rumah tinggal, 1.617 pusat komersial dan layanan.
“Angka-angka ini terus meningkat setiap hari seiring dengan serangan militer berkelanjutan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap kejahatan perang di berbagai kota di Iran,” tambahnya.
Sumber: Anadolu / Antara







