Pilatus Porter yang Jatuh di Binuang Merupakan Pesawat Perintis Terbaik di Dunia

benuanta.co.id, TARAKAN – Pesawat perintis jenis Pilatus PC-6 Porter PK-SNE milik maskapai Smart Air merupakan salah satu pesawat yang melayani dua Subsidi Ongkos Angkut (SOA), yakni subsidi masyarakat dan barang di wilayah Kaltara.

Pesawat Pilatus PC-6 Porter ini merupakan legend yang menjadi andalan dari maskapai Smart Air. Pesawat ini juga dinobatkan sebagai pesawat tangguh dengan rekor dunia lantaran kemampuannya yang dapat lepas landas dan mendarat di landasan pendek. Pilatus PC-6 Porter dinobatkan sebagai pesawat fixed-wing yang mendarat pada ketinggian 18.865 kaki atau 5.750 meter di Gletser Dhaulagiri, Nepal.

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
1913 votes

Pesawat ini dimodifikasi dan dibuat secara handmade di pabrik Pilatus Aircraft, Swiss. Airframe atau rangka badan pesawat ini dirakit secara manual. Pilatus PC-6 Porter ini juga merupakan pesawat terakhir yang diproduksi oleh Pilatus Aircraft pada akhir 2022 lalu, dengan maskapai Smart Air sebagai customer terakhir.

Baca Juga :  Gubernur Kaltara Buka Bersama Warga Binaan Lapas Tarakan

Diketahui, pesawat tersebut sudah sejak 2017 lalu beroperasi di Bumi Benuanta. Namun, base dari pesawat perintis itu berada di Pemerintah Kabupaten Malinau.

Manager PT Smart Cakrawala, Nasrul mengatakan, sebelum dikabarkan jatuh, pesawat tersebut memiliki penerbangan seminggu sekali dengan rute yang berbeda-beda.

Kebetulan, pada pekan ini, pesawat itu dijadwalkan mengangkut SOA barang berupa sembako ke wilayah Desa Binuang, Kecamatan Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan.

Baca Juga :  Lanjutkan Pembangunan Motivasi Terbesar Gubernur Zainal Kembali ke Pilgub 

“Tapi rute terbanyak itu memang untuk subsidi masyarakat,” katanya, Sabtu (9/3/2024).

Selama menempuh penerbangan, pilot tak didampingi co pilot, hanya single pilot yang mengendalikan pesawat sudah memiliki jam terbang tinggi, sekitar 754 jam penerbangan atau telah sekitar 1 tahun beroperasi di Kaltara. Khusus untuk rute Binuang sendiri, pilot sudah memiliki jam terbang sekitar 300 jam.

Dalam setiap penerbangannya, single pilot didampingi oleh satu engineer yang bertugas dalam pesawat Pilatus Porter PK-SNE.

“Saat penerbangan hanya single pilot, didampingi oleh Engineering on Board (EOB) 1 orang. Untuk mengecek komponen kapal sebelum keberangkatan biasanya,” sambung Nasrul.

Baca Juga :  Gubernur Kaltara Kembali Berangkatkan Umroh 50 Imam Masjid di Tarakan 

Adapun kapasitas dari pesawat perintis PK-SNE ini, untuk penumpang sebanyak 7 orang. Sementara untuk barang atau kargo maksimal 650 kilogram, sudah terhitung pilot dan engineer.

Saat insiden jatuhnya pesawat Pilatus Porter ini, dikatakan Nasrul membawa muatan dengan berat 583 kilogram, sudah terhitung satu pilot dan satu engineer.

“Kebetulan kargo perintis ini membawa 583 kilogram, itu sudah dengan kru pesawat. Barangnya berisi sembako, dan biasanya seminggu sekali. Sebelum keberangkatan kemarin, kondisi kondisi pilot itu sehat. Pengecekan komponen kapal juga dalam kondisi baik,” pungkasnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Nicky Saputra 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *