Pos Pembelian Ikan Tutup, Nelayan Tradisional Ngaku Merugi

benuanta.co.id, TARAKAN – Jelang perayaan Tahun Baru Imlek, nelayan di Tarakan mengalami kesulitan ekonomi akibat semua perusahaan atau pos pembelian ikan ekspor ditutup sementara.

Ketua kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kaltara, Rustan membenarkan adanya faktor yang mempengaruhi para nelayan tidak melaut seperti cuaca, perayaan Imlek dan pesta demokrasi. Ketiga faktor tersebut memperpanjang penutupan pos pembelian ikan yang direncanakan akan kembali dibuka setelah pesta demokrasi selesai digelar.

“Kita sebagai nelayan, mau setengah bulan kita tidak melaut. Kalau melaut tidak ada yang membeli. Saya kira suatu pengalaman yang pahit lah di awal tahun 2024 bagi nelayan,” ujar Rustan, Rabu (7/2/2024).

Baca Juga :  Dzaid Es Jajaki Cabang di Tarakan, Hadirkan Menu Premium

Ia mengungkapkan keadaan cuaca yang paling berpengaruh terhadap nelayan karena mulai dari pertengahan Januari lalu, para nelayan enggan untuk melaut karena situasi cuaca, gelombang serta perubahan iklim saat memang sangat terdampak bagi keselamatan nelayan.

Lanjutnya, ia memperkirakan hal tersebut akan berlangsung hingga bulan Maret mendatang, sedangkan pos pembelian ikan kemungkinan akan dibuka sekitar tanggal 16 hingga 17 Februari seusai Pemilihan Umum (Pemilu).

Baca Juga :  RSUD JSK Bakal Gelar Forum Konsultasi Publik

“Pos pembelian ikan dia mengirim juga jadi dia menunggu informasi dari buyer juga tempat pengiriman itu jadi nggak berani juga. Biasanya habis Imlek pasti harganya anjlok. Pasti turun,” ungkapnya.

Ia pun membeberkan pos pembelian ikan rata-rata hanya untuk ikan ekspor saja sedangkan untuk konsumsi lokal ada namun tidak seberapa. Terkait ikan yang dijual ke pasar harganya relatif lebih murah jauh dari dari harga yang dijual di pos pembelian ikan ekspor.

Baca Juga :  Terlilit Pinjaman Online, Oknum Kasir Perusahaan Tilap Uang Rp 607 Juta

“Rata-rata nelayan yang ada ikannya dijual di pasar tidak ada yang dijual di penampungan ikan ekspor semua lari ke pasar makanya di pasar harganya lagi turun,” imbuhnya.

“Itulah dipermainkan kita sebagai nelayan. Mau dijual murah, tidak dijual daripada busuk lebih baik jadi uang aja sih supaya bisa menutupi kebutuhan kita,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *