benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, tercatat ada dua daerah di Kalimantan Utara (Kaltara) yang prevalensi stunting di atas 30 persen.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda-Litbang) Kaltara Bertius mengatakan, angka prevalensi stunting di Kaltara tercatat sebesar 27,5 persen pada 2021. Turun menjadi 22,1 persen pada 2022.
“Jadi, ada penurunan sebesar 5,4 persen selama 2021-2022,” katanya, Jumat (29/9/2023)
“Di Kaltara, ada dua daerah yang prevalensi stunting-nya di atas 30 persen. Nunukan dan KTT. Jadi, penurunan angka prevalensi stunting di dua daerah ini masih perlu dimaksimalkan,” tambahnya.
Bertius menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan angka prevalensi stunting di dua daerah masih tinggi. Di Nunukan, hal itu disebabkan adanya perpindahan penduduk dari Malaysia yang tidak tertangani dengan baik.
“Misalnya, ada TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ilegal yang hamil di sana (Malaysia) lalu dipulangkan. Karena tidak mendapatkan penanganan dengan baik akhirnya bayi yang dilahirkan mengalami stunting,”ungkapnya.
Kemudian, untuk di KTT stunting lebih dipengaruhi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Mengingat, saat ini masyarakat di sana masih terbiasa buang air besar (BAB) di sungai.
“Jadi, PHBS ini menjadi salah satu penyebab masih tingginya angka prevalensi stunting di sana (KTT),” ungkapnya.
Karena itu, edukasi dinilai sangat penting. Sehingga, masyarakat memahami pentingnya hidup sehat dan mengubah pola pikir. Kendati demikian, Bappeda-Litbang Kaltara menyakini bahwa dua daerah ini sudah melakukan berbagai upaya untuk melakukan penurunan angka prevalensi stunting di daerahnya.
“Tetapi, kita berharap Pemda Nunukan dan Pemda KTT bisa lebih memaksimalkan dalam percepatan penurunan prevalensi stunting,” jelasnya.
Secara nasional, angka prevalensi stunting Kaltara ditarget sebesar 14 persen pada 2024 mendatang. Sehingga saat ini pihaknya harus terus berupaya memaksimalkan untuk menurunkan angka prevalensi stunting.
Tahun ini, kata Bertius, angka prevalensi stunting di Kaltara ditarget sebesar 17,5 persen. “Kalau target sebesar 17,5 persen itu bisa tercapai, kita optimistis bisa mencapai target 14 persen pada 2024. Kalau bisa melebih target nasional,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Yogi Wibawa