Ini Saran Psikolog Jika Bertemu Penderita Gangguan Jiwa Exhibisionisme

benuanta.co.id, TARAKAN – Biasanya Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berkelakuan di luar ekspetasi. Seperti yang dialami korban berinisial AN di Jalan Pasir Putih pada Senin, 30 Agustus 2021.

Baru-baru ini Media Sosial (Medsos) di Kota Tarakan sempat heboh dengan seorang pria yang diduga mengidap gangguan jiwa Exhibisionisme atau memiliki perilaku yang gemar memperlihatkan kemaluannya di tempat umum.

Menanggapi hal tersebut, Psikolog Klinis Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT), Henni Budiastuti, M.Psi menuturkan, sebelum melakukan hal tersebut ODGJ biasanya mempunyai fantasi seksual yang berbeda dari orang normal pada umumnya.

Baca Juga :  Tokoh Agama dan Ormas Deklarasikan Kamtibmas Selama Ramadan di Tarakan

“Misalkan fantasi seksual laki-laki normal biasanya melihat perempuan tak berbusana. Namun orang dengan gangguan ini fantasi seksualnya lebih kepada memamerkan alat kelamin dan mendapatkan perhatian,” ujar Henni, Selasa (31/8/2021).

Baca Juga : 

Menurut Henni, meskipun biasanya setelah melakukan aksinya ada yang langsung masturbasi namun ada juga yang tidak.

Ia menyarankan sangat tidak disarankan untuk merekam apalagi mengambil video orang dengan gangguan di jalan, bahkan dimarah-marahi lantaran bukan jalan keluar.

Baca Juga :  Kemenag Tarakan Tetapkan Zakat Fitrah Ramadan 1447 H, Ini Besarannya

“Karena itulah tujuan mereka ODGJ Exhibisionisme, yakni untuk dapat perhatian dari orang lain,” pungkasnya.

“Kalau kita videoin, kita marahin, atau kita respon, itu malah membuat dia merasa diperhatikan dan merasa puas. Jika kondisinya sudah parah, dia bisa sampai masturbasi di tempat kejadian,” tambahnya.

Masyarakat lebih disarankan untuk tidak menghiraukan dan tidak memperhatikan pelaku ODGJ Exhibisionisme untuk meminimalisir hal – hal yang lebih buruk dan tidak diinginkan terjadi.

Baca Juga :  BPJS PBI Sebagian Masyarakat Dinonaktifkan, Ini Alasannya

Henni menambahkan, proses rehabilitasinya pun harus dimulai dengan memperbaiki kognitifnya terlebih dahulu, karena ada yang salah dengan cara berpikirnya.

“Setelah kognitif membaik, kita terapi perilaku, itu pun harus ada niat untuk berubah dan kesediaan dari yang bersangkutan, terapi perilaku ini seperti melakukan perilaku positif ketika fantasi itu muncul, atau bahkan mengaktifkan perilaku positif lain agar tidak ada ruang bagi pikiran untuk berfantasi,” tutupnya. (*)

Reporter : Matthew Gregori Nusa

Editor : Nicky Saputra

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *