Harga Beras di Tarakan Naik, DKPP Prediksi Stabil Kembali Usai Panen

benuanta.co.id, TARAKAN – Kenaikan harga beras di Tarakan dalam beberapa bulan terakhir masih terus dirasakan masyarakat. Kondisi ini dipengaruhi terbatasnya pasokan dari daerah asal, khususnya Sulawesi dan Jawa yang mengalami penurunan produksi.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian (DKPP) Tarakan, Wiwiek Aisyiyah menyebut, tren kenaikan ini sudah berlangsung secara perlahan sejak beberapa bulan lalu. Menurutnya, hal ini disebabkan ketersediaan beras di daerah penghasil yang semakin menipis.

“Kalau dari informasi distributor, memang ketersediaan di tempat asalnya itu kurang karena produksi menurun,” ujarnya.

Baca Juga :  Dukung Program SEMANTIK Komdigi, Telkomsel Terapkan Registrasi Biometrik Wajah untuk Nomor Seluler Baru

Namun ia berharap situasi ini tidak berlangsung lama. Berdasarkan informasi dari distributor, masa panen di Sulawesi diperkirakan dimulai pada Agustus hingga September. Dengan begitu, pasokan beras akan kembali meningkat dan harga dapat kembali stabil.

“Biasanya menjelang panen ketersediaan beras menipis sehingga harga naik. Tapi kalau panen sudah berlangsung, ketersediaan kembali surplus dan harga menurun,” jelasnya.

Ia menambahkan, sejumlah distributor di Tarakan sempat mengalami kekosongan stok. Namun pihaknya menegaskan, urusan distribusi dan perdagangan bukan kewenangan DKPP. Meski begitu, dinas tetap berupaya memastikan ketersediaan dengan mendorong distributor segera mendatangkan pasokan.

Baca Juga :  Indosat Hadirkan Desa Digital untuk Dorong Ekonomi dan Pendidikan Warga Pesisir

Selain itu, pemerintah juga mendorong pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) dengan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog. Upaya ini diharapkan bisa menekan lonjakan harga di pasaran.

“GPM ini salah satu langkah stabilisasi harga. Beras SPHP ini kan mendapat subsidi dari pemerintah, sehingga bisa dijual lebih murah,” kata Wiwiek.

Meski demikian, ia mengakui pelaksanaan GPM kini terkendala aturan teknis. Tidak semua RPK (Rumah Pangan Kita) maupun lembaga, termasuk kelurahan, bisa langsung mendistribusikan beras. Setiap pengajuan tetap harus melalui rekomendasi dinas terlebih dahulu.

Baca Juga :  Tiket Kapal H-3 Lebaran di Tarakan Ludes, PELNI Tunggu Tambahan Kuota

Sementara itu, beras SPHP yang disalurkan Bulog di lapangan dinilai masyarakat cukup berkualitas. Pada GPM sebelumnya, stok 4 ton beras yang digelontorkan ludes diborong warga. Banyak yang menilai butiran beras tersebut bersih, pecahannya sedikit, dan teksturnya panjang menyerupai beras premium.

Upaya stabilisasi harga ini masih akan terus digalakkan. DKPP Tarakan berharap pasokan dari daerah penghasil segera pulih sehingga harga beras di pasaran bisa kembali normal. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *