benuanta.co.id, NUNUKAN – Pasca Pemerintah Sarawak Malaysia kembali menutup akses masuk dan keluar Long Midang, Indonesia-Ba kelalan, Malaysia, sejak Selasa (13/9) lalu, hal tersebut berdampak pada hasil pertanian masyarakat perbatasan Krayan yang terpaksa tak bisa terjual.
Hal tersebut diungkapkan oleh, Camat Krayan, Ronny Firdaus menyampaikan bahwa sebagain besar masyarakat Krayan bekerja sebagai petani. Yang mana selama ini hasil pertanian seperti beras adaan khas Krayan tersebut dijual di Sarawak, Malaysia. Namun semenjak pintu perbatasan kembali ditutup, masyarakat setempat tidak bisa menjual hasil pertanian mereka.
“Ini sudah mau dua Minggu lebih tertutup, masyarakat tidak bisa menjual hasil pertaniannya ke sana, padahal kita tahu sendiri mayoritas masyarakat disini itu petani,” ujar Ronny kepada benuanta.co.id, Kamis (29/9/2022).
Diungkapkannya, sejumlah kesulitan mulai dirasakan oleh masyarakat, lantaran hasil pertanian yang tidak bisa di jual sehingga tidak ada penghasilan mereka untuk memenuhi kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako).
“Belum lagi harga sembako sekarang ini naik semua,” katanya.
Diungkapkannya, selama ini hasil pertanian masyarakat hanya dapat diandalkan untuk dijual ke Sarawak, Malaysia, lantaran jika harus dijual ke seputar wilayah yang ada di Kalimantan Utara itu sangat sulit, lantaran akses untuk keluar dari Krayan harus menggunakan pesawat.
“Bayangkan kalau harus dikirim naik pesawat, ongkosnya berapa tentu tidak ada untungnya, makanya kita hanya berharap menjual ke Sarawak saja,” tandasnya.(*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Ramli







