Harga Tandan Buah Segar Sawit Masih Anjlok, Ini Faktornya

benuanta.co.id, NUNUKAN – Menurunnya harga tandan buah segar (TBS) sawit hingga saat ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan tingkat petani di Kabupaten Nunukan.

Kepala Bidang penyuluhan Pertanian Kabupaten Nunukan, Widodo mengatakan, ada beberapa alasan anjloknya harga TBS ditingkat petani karena disebabkan beberapa fenomena global dengan kebijakan pengurangan konsumsi sawit di India dan China sebesar 4,8 juta ton per tahun, bukan hanya di Kalimantan saja tapi di seluruh Indonesia.

Jadi penurunan harga TBS ini disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal turunnya harga TBS periode ini disebabkan oleh terjadinya kenaikan dan penurunan harga jual Crude Palm Oil (CPO) dan kernel dari perusahaan yang menjadi sumber data .

Baca Juga :  Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Siap Amankan Pasokan Energi Selama Ramadan dan Idulfitri 2026

Sementara dari faktor eksternal, harga minyak sawit mentah atau CPO diprediksi bakal anjlok. Dipicu menularnya ketakutan pasar global terhadap resesi yang mengancam ekonomi Amerika Serikat (AS). Bahkan, karena ada produk baru yaitu yang akan menggelontorkan minyak kedelai yang akan menghasilkan 2-3 juta.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Mukhtar mengatakan, saat ini jika dilihat di lapangan rata-rata tangki pks penuh, harga sawit internasional seharga Ringgit Malaysia RM3.900 per ton untuk kontrak Oktober jadi memang turun.

Baca Juga :  Bakesbangpol Bakal Lakukan Seleksi Calon Paskibraka melalui Test CAT

“Kalau dulu harganya sekitar RM. 5.000 adanya aturan Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO) yang menyebabkan susahnya ekspor keluar negeri karena harus ada persetujuan ekspor. Selain itu, ada juga piutang sebesar kurang lebih U$488 per ton sekarang berlaku tanggal 15 Juli hingga 31 Agustus 2022 itu di hilangkan dulu untuk sementara,” kata Mukhtar, Sabtu (23/7/2022).

Mukhtar menyampaikan terkait sejauh ini yang dilakukan hanya sebatas sosialisasi ada kesepakatan yang ditetapkan oleh Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) jadi mereka menyetujui sendiri tapi berdasarkan kwitansi pembelian CPO yang berlaku sekarang 7.400 atau 7.600 per kg berarti Rp7 juta per ton dasar harga kernel Rp4.000 lalu di masukkan ke dalam sistem yaitu Rp1.320 paling murah sedangkan yang paling mahal Rp1.467 per kg berlaku sampai dengan 31 Juli harga CPO di Nunukan.(*)

Baca Juga :  Kaltara Minta Tambahan Kuota BBM ke BPH Migas

Reporter: Darmawan

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *