Peluang Bisnis, Merajut Usaha Tahu dan Tempe di Desa Atap

benuanta.co.id, NUNUKAN – Tahu dan tempe merupakan salah satu peluang usaha yang cukup menjanjikan di Desa Atap, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan. Peluang itulah yang kini digeluti Maryani (56), kini sudah menghasilkan untuk membiayai keluarganya.

Maryani, saat berbincang dengan benuanta.co.id warga Desa Atap cukup menggemari tahu dan tempe. Namun sayangnya bahan baku maupun stok sangat terbatas. Sehingga ia berinisiatif untuk memulai usaha pembuatan tahu dan tempe.

“Kami juga senang makan tahu dan tempe apalagi di Sembakung tidak ada pesan baru ada. Dari situlah kita mulai terpikir buat tahu dan tempe sendiri,” kata Maryani kepada benuanta.co.id, Sabtu (19/2/2022).

Baca Juga :  Momen Mudik Lebaran, Kedatangan Penumpang Mendominasi di Dermaga PLBL Nunukan

Memuai usahanya, Maryani awalnya belajar dari seorang warga di Desa Atap yang kebetulan punya keahlian membuat makanan berbahan dasar kedelai itu. Setelah mendapatkan ilmunya, Maryani yang telah mempersiapkan segala bahan dasar dan alat membuat tempe dan tahu langsung memulai.

“Setelah itu kita mulai produksi sendiri di hari ketiga karena mulai bisa, awalnya kita juga sempat gagal produksi selam dua kali,” jelasnya.

Baca Juga :  Harga Bahan Pokok di Pasar Induk Tanjung Selor Merangkak Naik, Telur Tembus Rp70 Ribu

Dalam satu kali produksi, menghabiskan kacang kedelai sebanyak 9 kilogram (kg) dengan dua cetakan sebanyak 240 iris tahu. Sedangkan tempe diproduksi sebanyak 22 bungkus dalam sehari. Dalam sebulan menghabiskan 100 kilogram kacang kedelai.

Tempe ukuran kertas setengah kilogram dibandrol seharga Rp5.000, sedangkan tahu Rp1.000 satu iris harga pabrik dan untuk tahu pertong seharga Rp90 ribu.

“Ada juga sebagian kita titip di warung, dan ada sebagian masyarakat langsung datang membeli di pabrik,” terangnya.

Baca Juga :  DKUKMPP Nunukan dan BPOM Periksa Keamanan Pangan Jelang Lebaran

Pabrik tahu dan tempe bernama Anisa ini sudah berjalan selama enam bulan. Maryani juga bertekad memperbesar rumah produksinya seiring peningkatan konsumen ke depannya.

“Melihat kami sudah tua, sehingga anak kami bangun ini. Karena bapaknya hanya tukang senso kayu. Anak saya masih ada 3 kuliah yang harus saya biayain,” ujarnya. (*)

Reporter : Darmawan

Editor : Nicky Saputra

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *