benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Upaya memperkenalkan dan mengembangkan kerajinan tenun ikat di tengah arus modernisasi terus dilakukan oleh pelaku UMKM di Kabupaten Bulungan.
Salah satunya melalui kelompok tenun Karta Kreatif Flobamora.
Penggerak tenun, Maria Adelina Bey, mengatakan usaha tenun ikat yang dijalankannya mulai dirintis sejak tahun 2020. Kain yang diproduksi merupakan tenun ikat tradisional yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur.
“Tenunnya ini tenun ikat asli dari Flores, NTT. Kami dari Maumere, tapi usaha ini kami namakan Karta Kreatif Flobamora karena Flobamora mencakup banyak suku besar yang ada di NTT,” ujarnya Jumat (3/4/2026).
Menurut Maria, nama tersebut dipilih agar masyarakat dari berbagai suku di NTT dapat bergabung dan belajar menenun bersama, sekaligus memperkenalkan budaya tenun di daerah perantauan seperti Tanjung Selor.
Seiring berjalannya waktu, kelompok tenun ini juga mulai mengembangkan motif yang terinspirasi dari budaya lokal di Kabupaten Bulungan.
“Setelah 2022, kami mendapat usulan dari Bapak Bupati agar membuat kain tenun dengan tiga motif besar suku yang ada di Kabupaten Bulungan, yaitu Dayak, Tidung dan Bulungan,” jelasnya.
Dalam pengembangannya, kelompok tenun ini juga mendapatkan pelatihan yang difasilitasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bulungan. Salah satu pelatihan yang diikuti yakni pembuatan tenun menggunakan pewarna alami.
“Pelatihan kali ini merupakan pelatihan lanjutan pewarna alam. Sebelumnya kami sudah mengikuti pelatihan pertama pada Oktober 2024,” kata Maria.
Ia menilai, penggunaan pewarna alami memiliki banyak kelebihan, selain ramah lingkungan juga bahan bakunya mudah diperoleh di sekitar.
“Kenapa saya tertarik mengembangkan pewarna alam, karena bahan-bahannya mudah didapat di sekitar kita dan limbahnya juga tidak merusak lingkungan,” ungkapnya.
Beberapa bahan pewarna alami yang digunakan antara lain daun ketapang, akar mengkudu, kulit kayu mahoni, kayu secang hingga tanaman indigo. Selain pembinaan dari dinas, kelompok tenun ini juga tergabung dalam Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) sebagai bagian dari pelaku UMKM binaan.
“Puji Tuhan, dari dua kali pelatihan yang kami ikuti, kami merasa sangat terbantu. Kalau ada kekurangan seperti alat tenun atau bahan, kami bisa menyampaikan dan biasanya ada dukungan dari dinas,” ujarnya.
Saat ini produk yang dihasilkan tidak hanya berupa kain tenun, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk seperti selendang, rompi hingga tas melalui kolaborasi dengan pelaku usaha lainnya.
Maria berharap, melalui dukungan pelatihan dan pembinaan dari pemerintah daerah, kerajinan tenun ikat dapat semakin dikenal masyarakat sekaligus membuka peluang usaha baru.
“Harapan saya, semoga semakin banyak orang terutama anak muda yang tertarik belajar menenun. Karena selain melestarikan budaya, ini juga bisa menjadi peluang usaha,” pungkasnya.
Untuk pesanan hasil produk tenun dapat dipesan melalui media sosial Facebook Karta Kreatif Flobamora maupun langsung di rumah produksi mereka di kawasan Jalan Selor Kilo 2, Tanjung Selor. Produk mereka juga bisa dilihat di Galeri dekranasda Tanjung Selor.(*)
Reporter: Alvianita
Editor: Endah Agustina







