Dinkes Bulungan Minta Masyarakat Waspadai DBD

benuanta.co.id, BULUNGAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bulungan tengah fokus menangani kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang tengah mengalami peningkatan.

Kepala Dinkes Kabupaten Bulungan, Imam Sujono mengatakan DBD terjadi karena saat ini Bulungan masih mengalami intensitas hujan yang panjang. Untuk itu pihaknya meminta masyarakat agar lebih waspada.

“Saat ini terjadi peningkatan DBD, terpantau di Tanjung Selor dan Desa Pimping. Makanya sepekan ini kami sudah mulai menginformasikan kepada masyarakat melalui Puskesmas dan media sosial,” ujar Imam Sujono kepada benuanta.co.id, Rabu 2 Februari 2022.

Baca Juga :  Syarwani Instruksikan Dishub Siapkan Revisi Perbup Nomor 39 Tentang Bagi Hasil Pengelolaan Parkir

Dia menjelaskan penyebab DBD yang terjadi di Bulungan oleh nyamuk Aedes Aegypti, yang membawa virus dengue. Kata dia, wilayah rawan terjangkit DBD berkaca pada kejadian sebelumnya ada di wilayah perkotaan. Lantaran penduduknya yang banyak di beberapa titik dan belum tertata.

“Kemudian saluran airnya juga belum tertata contohnya Jalan Semangka, Sabanar Lama yang punya pemukiman padat penduduk yang belum tertata,” jelasnya.

Baca Juga :  Program MBG Ramadan di Tanjung Selor Tuai Kritik, Begini Jawaban Korwil BGN Bulungan

Langkah yang diambil, Dinkes Bulungan menyurati Puskesmas dan membuat pengumuman yang diedarkan ke media sosial. Pasalnya jika DBD tidak dikelola dengan baik, maka bisa menimbulkan angka kematian yang tinggi.

“Yang meninggal dunia mudah-mudahan tidak ada, kalau yang dirawat itu lumayan banyak,” bebernya.

Imam menjelaskan jika Fogging merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberantas nyamuk Aedes Aegypti. Namun hal ini harus dipertimbangkan dan menguranginya, lantaran zat yang digunakan adalah racun.

Baca Juga :  TMMD Buka Akses Jalan 3,5 KM di Salimbatu

Fogging sendiri dapat dilakukan jika telah terjadi kejadian luar biasa (KLB), salah satu indikatornya adalah kematian dan peningkatan kasus yang tinggi.

“Kalau residunya tidak dikelola dengan bagus ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan yang lain. Kita lebih fokus pada 3 M Plus, itu lebih efektif dan biayanya ringan serta tidak berisiko,” pungkasnya. (*) 

Reporter: Heri Muliadi

Editor : Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *