benuanta.co.id, BULUNGAN — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tanjung Harapan, mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Utara (Kaltara) masih dalam kategori normal, namun tetap perlu diwaspadai seiring kondisi cuaca panas dan angin kencang dalam beberapa hari terakhir.
Forecaster BMKG Tanjung Harapan, Silvy, mengatakan fluktuasi parameter cuaca saat ini masih berada dalam batas wajar. “Masih normal. Meski begitu, dalam kondisi tertentu bisa meningkat hingga kategori ekstrem,” ujarnya, Selasa (7/4/2026)
Menurut dia, cuaca terik pada siang hari menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan, terutama di wilayah yang memiliki karakteristik lahan gambut dan vegetasi mudah terbakar. Kondisi tersebut diperparah dengan pola angin yang cukup kencang, sehingga berpotensi mempercepat penyebaran api.
Silvy menyebut sejumlah wilayah di Kabupaten Bulungan menjadi titik rawan kemunculan hotspot. “Yang sering terpantau itu di Tanjung Palas Timur dan Tanjung Palas Utara,” katanya.
Struktur tanah gambut di kawasan tersebut dinilai rentan memicu kebakaran, terutama saat pembukaan lahan dilakukan dengan cara dibakar. Ia menjelaskan, praktik pembukaan ladang berpindah yang masih berlangsung di masyarakat menjadi salah satu pemicu karhutla.
Api yang awalnya terkendali kerap melebar akibat kondisi cuaca yang tidak mendukung. “Niatnya mungkin membakar sedikit, tapi bisa kebablasan,” ujar Silvy.
Berdasarkan pemantauan BMKG sejak awal April, sejumlah titik panas terdeteksi di beberapa wilayah. Di Kabupaten Nunukan, hotspot terpantau di Kecamatan Sembakung dan Pulau Sapi masing-masing dua titik, serta di Binusan sebanyak dua titik. Sementara itu, pada hari ini, satu titik panas terdeteksi di Tanjung Palas Timur, Bulungan.
BMKG terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk memperbarui data hotspot dan mendukung upaya mitigasi di lapangan. “Kami rutin berbagi data. Nanti instansi terkait yang melakukan penanganan langsung,” kata Silvy.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya yang membuka lahan, agar lebih berhati-hati. “Kalau memang harus membuka lahan, perhatikan kondisi cuaca. Jangan sampai api menyebar,” ujarnya.
Silvy menambahkan, meski hujan masih terjadi, umumnya turun pada sore hingga malam hari. Kondisi ini membuat permukaan lahan tetap kering saat siang, sehingga mudah terbakar. Kombinasi panas ekstrem dan angin kencang, kata dia, menjadi faktor yang memperbesar risiko karhutla di wilayah tersebut. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Endah Agustina







