benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan meminta warga meningkatkan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem yang diprediksi berlangsung hingga Februari 2026. Intensitas angin dan hujan yang tinggi menjadi faktor utama meningkatnya potensi longsor di wilayah perbukitan dan pesisir.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, mengatakan, pola cuaca ekstrem sudah terjadi sejak Januari dan berdampak pada puluhan titik longsor di beberapa kecamatan. Menurutnya, situasi ini masih akan berlanjut, sehingga masyarakat diminta mengikuti informasi resmi cuaca melalui aplikasi BMKG maupun BPBD.
“Angin di laut maupun darat sangat tinggi. Itu berdampak ke tumbangnya kayu dan ketahanan tebing-tebing di perbukitan,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Ia menegaskan, warga di wilayah lereng agar lebih sigap dalam melakukan langkah pencegahan, terutama memotong ranting atau buah pohon yang terlalu berat untuk mengurangi risiko pohon tumbang.
Ia menekankan agar pohon tidak ditebang seluruhnya, karena akar pohon justru berfungsi menjaga stabilitas tanah dan mencegah erosi. “Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi bagian dari antisipasi yang harus dilakukan,” tambahnya.
Sebagai upaya mitigasi, BPBD menyalurkan bantuan stimulan berupa material kayu untuk memperkuat area rawan longsor. Bantuan tersebut senilai Rp5 juta per titik dan diberikan dalam bentuk balok, papan, serta paku untuk penahan longsor sementara.
Total ada 50 titik yang menerima bantuan yang tersebar di Tarakan Timur, Tarakan Tengah, dan Tarakan Barat dengan total anggaran mencapai Rp250 juta dari APBD Perubahan.
Menurutnya, masyarakat bersama RT dan kelurahan akan melakukan pemasangan material melalui kegiatan gotong royong. Bantuan ini hanya bersifat pemicu agar masyarakat dapat segera melakukan penanganan awal di lokasi masing-masing.
Yonsep mengingatkan, memasuki Desember hingga pertengahan Februari, cuaca ekstrem cenderung meningkat setiap tahun. Karena itu, warga diminta tetap waspada, terutama yang tinggal di kawasan perbukitan, untuk mencegah terjadinya bencana susulan. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Yogi Wibawa







