benuanta.co.id, BULUNGAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tanjung Harapan mengingatkan masyarakat Kalimantan Utara (Kaltara) tak hanya mewaspadai perubahan cuaca, tetapi juga tinggi gelombang laut, terutama bagi pengguna transportasi sungai dan laut.
Kepala BMKG Tanjung Harapan, Haris, mengatakan tinggi gelombang laut umumnya dipengaruhi faktor regional, berbeda dengan cuaca yang bisa bersifat lebih lokal. Gelombang laut, kata dia, terbentuk dari akumulasi energi angin yang telah bertiup sedikitnya 12 jam sebelumnya.
“Gelombang laut lebih dipengaruhi faktor regional. Gelombang terbentuk dari akumulasi angin yang sudah bertiup sejak 12 jam atau lebih sebelumnya,” ujar Haris, Rabu (11/2/2026).
Ia menjelaskan, akumulasi energi angin tersebut dapat memicu gelombang tinggi yang muncul pada pagi atau sore hari. Sumber angin pun tidak selalu berasal dari wilayah sekitar Kaltara, melainkan bisa dari perairan lain.
“Bisa berasal dari Laut Jawa, Selat Karimata, atau dari sisi utara. Itu semua punya perhitungan tersendiri,” katanya.
Terkait aktivitas pelayaran, khususnya speedboat, Haris menyebut gelombang dengan ketinggian hingga satu meter masih tergolong aman, sepanjang operator mematuhi regulasi dan standar keselamatan. Namun ia menegaskan, batas tersebut tidak bisa digeneralisasi untuk semua jenis kapal.
“Bukan berarti gelombang satu meter itu selalu aman untuk semua. Bagi nelayan kecil atau speedboat, kesiapan kapal, mesin, dan bahan bakar sangat menentukan,” ujarnya.
Haris menambahkan, sejumlah insiden di laut justru kerap dipicu faktor non-cuaca, seperti kerusakan mesin atau kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan.
“Sering kali bukan gelombangnya, tapi mesin mati karena bahan bakar habis. Kalau speed berhenti di tengah laut, itu sangat berbahaya,” katanya.
BMKG Tanjung Harapan, menurut Haris, terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi gelombang di perairan Kaltara. Ia mengimbau para motoris dan nakhoda agar selalu memperbarui informasi cuaca sebelum berlayar dan mengutamakan keselamatan dibanding kepentingan perjalanan.
“Kami terus memantau dan akan melakukan pembaruan informasi. Keselamatan tetap yang utama,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Yogi Wibawa







