“Dulu saya belajar dari orang tua dan kakak-kakak. Tapi sekarang tinggal saya sendiri yang masih buat,”
DI sebuah rumah kayu sederhana di Desa Liagu, Kabupaten Bulungan, seorang perempuan tua tampak duduk bersila di atas lantai papan. Dengan mengenakan kain batik dan ikat kepala khas, tangannya yang mulai berkeriput tetap cekatan memilah helai-helai daun pandan.
Di pangkuannya terhampar anyaman hijau yang perlahan membentuk pola. Adalah Nenek Tija, perajin tikar pandan yang kini berusia 75 tahun. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan tradisi ini. Belajar dari orang tua dan kakak-kakaknya, ia tumbuh bersama kerajinan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat adat Tidung.
Kini, di usianya yang senja, ia tetap bertahan melanjutkan keterampilan itu, meski hanya tinggal dirinya seorang di Desa Liagu yang masih menekuninya.
“Kalau sudah rebus, jemur dulu, baru bisa dipakai untuk dianyam,” ujarnya sembari terus merapikan helai pandan di tangannya.
Proses membuat tikar pandan tidak sebentar di butuhkan waktu kurang lebih seminggu untuk membuat tikar dengan ukuran 7 tapak kaki. Daun pandan dipetik dari kebun kecil di belakang rumahnya, lalu direbus dan dijemur hingga kering selama berhari-hari. Setelah itu, ia merautnya dengan alat sederhana dari bambu dan besi. Satu tikar berukuran sekitar 1,5 meter bisa menghabiskan hingga 200 lembar daun pandan, dengan waktu pengerjaan sekitar satu minggu.
Tikar pandan ini punya makna lebih dari sekadar alas. Dalam adat Tidung, tikar menjadi bagian penting prosesi pernikahan, dipakai untuk alas bersanding hingga berpupur. Tak jarang juga digunakan untuk ibadah dan kegiatan sehari-hari.
Harganya pun beragam. Ukuran sedang dijual sekitar Rp150 ribu, sedangkan ukuran lebih besar bisa mencapai Rp300 ribu. Tikar buatan tangannya pernah sampai ke Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) dibawa oleh kerabat yang memesan khusus, meski sebagian besar hanya beredar di sekitar Desa Liagu.
“Kalau ada yang pesan, biasanya keluarga yang bawa ke luar daerah,” katanya.
Namun, keterampilan yang ia miliki belum ada penerusnya. Anak dan cucunya tidak ada yang berminat melanjutkan tradisi ini. Nenek Tija pun menganyam seorang diri, tanpa komunitas atau rekan seprofesi di desanya.
“Dulu saya belajar dari orang tua dan kakak-kakak. Tapi sekarang tinggal saya sendiri yang masih buat,” ucapnya lirih.
Kini, setiap kali duduk di atas tikar pandan yang sudah jadi, ia seolah bercakap dengan masa lalu. Baginya, menganyam bukan sekadar pekerjaan, melainkan pengabdian menjaga warisan leluhur agar tetap hidup.
Di usia 75 tahun, dengan tenang ia masih tekun menganyam di teras rumahnya. Suara gesekan daun pandan, jemari yang menari di atas anyaman, dan sabarnya ia bekerja menjadi saksi nyata betapa tradisi Tidung masih bernapas melalui dirinya, meski pelan-pelan terancam punah. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Yogi Wibawa







