benuanta.co.id, NUNUKAN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di dua lokasi berbeda di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, dalam dua hari berturut-turut. Total luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai enam hektare.
Dua lokasi tersebut berada di Desa Kalampising, Kecamatan Lumbis, dan Desa Butas Bagu, Kecamatan Sembakung. Kebakaran masing-masing menghanguskan sekitar tiga hektare lahan berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan.
Kasubsi Penyelamat dan Evakuasi BPBD Kabupaten Nunukan, Hasanuddin, menjelaskan, kebakaran pertama terjadi pada Sabtu (17/10/2026) di lahan persawahan milik warga bernama Kardi di Desa Kalampising.
Laporan kebakaran diterima petugas pada pukul 13.32 Wita. Personel BPBD kemudian bergerak menuju lokasi pada pukul 14.05 Wita untuk melakukan pemadaman.
Penanganan melibatkan lima personel BPBD, empat petugas pemadam kebakaran (Damkar), serta bantuan 10 warga setempat. Proses pendinginan dilakukan hingga pukul 15.18 Wita.
“Dalam dua hari, terjadi kebakaran lahan di dua lokasi berbeda, yakni di Desa Kalampising, Kecamatan Lumbis, dan Desa Butas Bagu, Kecamatan Sembakung. Masing-masing lokasi diperkirakan mengalami kebakaran seluas tiga hektare,” ujar Hasanuddin.
Sehari berselang, Ahad (18/10/2026), kebakaran kembali terjadi di lahan perkebunan kelapa sawit milik Herlan di Desa Butas Bagu, Kecamatan Sembakung. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai tiga hektare.
Laporan kebakaran diterima petugas pada malam hari. Personel gabungan kemudian bergerak menuju lokasi pada pukul 21.56 Wita untuk melakukan pemadaman.
Penanganan melibatkan lima personel BPBD Pos Lumbis, dua personel BPBD Pos Sembakung, empat petugas Damkar sektor Lumbis, satu anggota Polsek Sembakung, enam personel Damkarhutla Adindo, serta sekitar 50 warga.
Proses pemadaman di Desa Butas Bagu menghadapi sejumlah kendala. Kondisi jalan yang rusak dan sulit dilalui kendaraan membuat petugas harus menempuh jarak sekitar dua kilometer menuju titik kebakaran. Keterbatasan penerangan juga menyulitkan penanganan pada malam hari.
“Untuk kebakaran di Desa Butas Bagu, petugas menghadapi kendala akses jalan yang rusak dan sulit dilalui kendaraan. Jarak menuju titik kebakaran juga sekitar dua kilometer, ditambah keterbatasan penerangan di lokasi,” jelasnya.
Dalam penanganan tersebut, petugas mengerahkan kendaraan operasional pemadam kebakaran, mobil suplai air, lima unit pompa gendong pinjaman, serta peralatan sederhana berupa ranting kayu. Setelah upaya pemadaman, petugas melanjutkan proses pendinginan. Pada kejadian di Desa Butas Bagu, proses pendinginan tercatat pada pukul 01.18 Wita.
Hasanuddin mengatakan, pemantauan tetap dilakukan setelah pemadaman untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala.
“Setelah api berhasil dipadamkan, petugas tetap melakukan pemantauan di lokasi untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali titik api,” pungkasnya.
Menyikapi dua kejadian tersebut, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan, terutama saat melakukan aktivitas di kawasan perkebunan maupun persawahan. Warga juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar karena api dapat merambat dan sulit dikendalikan, terlebih jika lokasi kebakaran memiliki akses terbatas.
Selain itu, masyarakat diharapkan tidak membuang puntung rokok sembarangan atau meninggalkan api yang masih menyala di sekitar lahan. Apabila menemukan titik api, warga diminta segera melapor kepada petugas BPBD atau pemadam kebakaran agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.
Upaya pencegahan dinilai penting untuk menekan risiko kebakaran meluas, mengingat proses pemadaman di sejumlah lokasi dapat terkendala kondisi medan dan keterbatasan akses kendaraan. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Endah Agustina







