Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk menangani kasus nCoV, Kementerian Kesehatan telah menyiagakan 100 rumah sakit yang sebelumnya menangani flu burung dan kasus infeksi emerging lainnya.
Dari 100 rumah sakit, 93 rumah sakit telah menyerahkan self asessment dalam bentuk sarana prasarana, SOP, dan tenaga kesehatan. Asessment tersebut untuk mengetahui kelengkapan fasilitas yang dimiliki oleh rumah sakit.
”26 rumah sakit memiliki SDM lengkap dan sudah melakukan simulasi tentang penanganan flu burung, memiliki 52 ruang isolasi dengan 113 tempat tidur yang dikhususkan untuk melayani penyakit emerging,” jelasnya.
Dengan semakin meluasnya penyebaran nCoV, pemerintah berkomitmen penuh untuk terus mencegah masuknya virus tersebut ke Indonesia. Salah satunya dengan dihentikannya rute penerbangan dari mainland Tiongkok ke Indonesia terhitung 5 Februari 2020, hingga waktu yang belum ditentukan.
Sementara itu, mengantisipasi masuknya virus corona di Kaltara, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Tarakan akan menjaga ketat beberapa daerah di Kaltara. “Sebatik, Derawan, Nunukan, dan Tarakan dinilai memiliki potensi karena sering dijadikan tempat persinggahan maupun destinasi wisatawan asing. Karena melihat banyaknya destinasi ke Derawan dan Sebatik, bahkan arus wisatawan dari Berau juga akan menjadi perhatian,” jelas Kepala KKP Kelas II Tarakan, Ahmad Hidayat kepada Benuanta.
Ahmad Hidayat menjelaskan, selama ini pihak KKP mengaku belum ada penumpang yang terindikasi mengalami gejala dari virus corona. “Namun berdasarkan perintah dari Kementerian Kesehatan kami harus tetap siaga satu,” pungkasnya.
Pantauan KKP, kunjungan dari luar negeri cukup stabil di Kaltara, penerbangan 3 kali seminggu dan kedatangan penumpang melalui laut di Pelabuhan Malundung maupun di Pelabuhan Nunukan juga cukup stabil. “Masyarakat tidak perlu resah dan panik, yang jelas kita (KKP) akan tetap waspada dan bersiaga 24 jam di setiap pintu negara ke Kaltara khususnya Tarakan,” tuturnya.







