Jadi PR Besar Pemkab, Angka Anak Tidak Sekolah di Bulungan Capai 2.533 Orang

benuanta.co.id, BULUNGAN – Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu prioritas pembangunan Kabupaten Bulungan pada 2027. Namun, di balik rencana baik tersebut, persoalan anak tidak sekolah (ATS) masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan pemerintah daerah (Pemda).

Data per 21 September 2026 mencatat sebanyak 2.533 anak usia 6 hingga 18 tahun masuk dalam kategori anak tidak sekolah.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.050 anak tercatat belum pernah mengenyam pendidikan. Kemudian, 843 anak mengalami putus sekolah atau drop out (DO), sedangkan 647 anak lainnya sudah lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Di sisi lain, data tersebut masih dalam proses pemutakhiran. Dari total 2.533 anak yang tercatat, baru 1.287 anak yang sudah diverifikasi. Sementara itu, 1.246 anak lainnya masih belum diverifikasi.

Baca Juga :  Bupati Bulungan Geram! ASN Tidak Disiplin di Upacara Hari Jadi Daerah

Kepala Bappeda Litbang Kabupaten Bulungan, Iwan Sugiyanta, mengakui angka anak tidak sekolah di Bulungan masih tergolong tinggi. Kondisi ini menjadi perhatian karena peningkatan kualitas manusia tidak cukup hanya melalui perencanaan program, tetapi juga harus memastikan anak-anak mendapatkan akses pendidikan yang layak.

Menurut Iwan, pemda saat ini masih melakukan kajian untuk memastikan data ATS benar-benar valid. Langkah itu diperlukan agar penyebab anak tidak bersekolah dapat diketahui dan penanganannya tidak sekadar berdasarkan perkiraan.

“Dari data yang ada, angka tidak sekolah di Kabupaten Bulungan itu masih termasuk tinggi,” ujarnya, Jumat (16/10/2026).

Baca Juga :  Dilaporkan Dugaan Ijazah Palsu, LB Sebut Tunggu Hasil Penyelidikan

Ia menjelaskan, ada sejumlah faktor yang bisa menyebabkan anak tidak bersekolah. Salah satunya berkaitan dengan akses menuju sekolah, terutama bagi anak-anak yang tinggal di wilayah dengan kondisi infrastruktur terbatas.

“Apakah ini karena lokasi dan infrastruktur yang jauh dari sekolah, atau karena keterbatasan lainnya. Itu yang nantinya akan dientaskan atau dilakukan untuk mengurangi angka tidak sekolah ini,” jelasnya.

Lanjutnya, pembangunan SDM tidak hanya berbicara tentang peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga bagaimana pemerintah memastikan layanan pendidikan dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat, termasuk anak-anak yang tinggal jauh dari pusat permukiman.

Baca Juga :  Kondisi Jembatan Gantung di Desa Tanjung Buka Kian Memprihatinkan

Iwan menyebut, keterbatasan infrastruktur sekolah juga masih menjadi kendala yang perlu dibenahi. Pemenuhan fasilitas pendidikan dinilai penting untuk mendukung proses belajar anak-anak di Bulungan.

“Yang menjadi kendala sekarang adalah infrastruktur terhadap sekolah-sekolah. Itu juga menjadi bagian dari rencana yang akan dikembangkan, sehingga pemenuhan fasilitas dasar di bidang pendidikan akan dilakukan,” ujarnya.

Meski demikian, persoalan yang dihadapi anak-anak di Bulungan tidak selalu sama. Karena itu, validasi data ATS menjadi langkah penting untuk menentukan apakah mereka terkendala jarak, fasilitas pendidikan, atau faktor lain yang membuat mereka tidak melanjutkan sekolah.(*)

Reporter: Alvianita
Editor: Endah Agustina