Waspadai Konsumsi Gula Berlebih pada Anak, Dokter Anak Ingatkan para Orang Tua

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Kebiasaan anak-anak yang mengonsumsi makanan dan minuman manis kini semakin meningkat.  Mulai dari permen, cokelat, minuman kemasan, es krim, donat, hingga aneka jajanan di sekolah dan sekitar rumah, menjadi pilihan favorit yang sulit dilepaskan dari keseharian mereka.

Tak jarang, orang tua juga tanpa sadar membiarkan anak mengonsumsi makanan manis secara berlebihan, kondisi ini dikhawatirkan dapat berdampak buruk bagi kesehatan anak dalam jangka panjang.

Menanggapi hal tersebut, dokter anak, dr. Noor Hamidah, Sp.A, M.Kes mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap asupan gula anak sejak dini.

“Sekarang anak-anak memang sangat suka jajanan manis. Padahal gula itu sebenarnya sudah ada di mana-mana. Di nasi ada, di roti ada, itu belum termasuk coklat, selai, dan jajanan lainnya,” ujar dr. Noor Hamidah kepada Benuanta, Sabtu (31/1/2026).

Baca Juga :  Diduga Gunakan Ijazah Palsu, Anggota DPRD Bulungan Resmi Jadi Tersangka

Ia menjelaskan, gula juga terkandung secara alami dalam berbagai jenis makanan, termasuk sayuran, meskipun jumlahnya relatif kecil.

“Di sayuran juga ada rasa manis, tapi gramnya sangat kecil. Jadi sebenarnya makanan anak itu sudah mengandung gula alami,” jelasnya.

Menurut dr. Noor Hamidah, saat anak mulai dikenalkan makanan pendamping, gula boleh diberikan dalam jumlah sangat sedikit. Namun, menambahkan gula secara berlebihan tidak dianjurkan.

“Boleh dikasih gula, tapi hanya sedikit, sekadar mengenalkan rasa. Tidak perlu ditambah-tambah lagi, karena makanannya sudah ada manisnya,” katanya.

Ia menegaskan bahwa konsumsi gula berlebihan dapat membuat anak terbiasa dengan rasa manis dan sulit mengontrol pola makan.

“Kalau sejak kecil dibiasakan manis, nanti anak akan terus mencari makanan yang manis-manis,” tambahnya.

Baca Juga :  Pemkab Bulungan Genjot Sertifikasi Aset Daerah

Dr. Noor Hamidah menjelaskan, kebutuhan gula anak berbeda-beda yakni sesuai dengan usia dan tingkat aktivitasnya.

“Anak usia 2 sampai 4 tahun itu kebutuhannya sekitar 14 gram per hari, atau 3 setengah sendok teh. Usia 4 sampai 7 tahun sekitar 19 gram. Kalau di atas 10 tahun, bisa sampai 28 gram,” terangnya.

Ia menekankan, anak tetap boleh mengonsumsi gula, namun harus dalam batas yang wajar.

“Boleh makan manis, tapi jangan jadi kebiasaan setiap hari. Harus sesuai kebutuhan tubuhnya,” tegasnya.

Selain membatasi konsumsi gula, orang tua juga diminta memastikan anak tetap aktif bergerak dan berolahraga.

“Kalau gulanya berlebih, tubuh akan simpan. Kalau aktivitasnya kurang, tidak terbakar. Jadi harus seimbang antara yang masuk dan yang keluar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pemkab Bulungan Beri Waktu 50 Hari OPD Rampungkan Sisa Kegiatan APBD 2025

Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian orang tua yang membiarkan anak mengonsumsi makanan manis tanpa aktivitas.

“Sering terjadi, anak dikasih permen, es krim, kue, habis itu dikasih HP, tidak ada gerak sama sekali. Ini harus jadi perhatian,” katanya.

Jika terus konsumsi gula berlebih dibiarkan terus-menerus, dr. Noor Hamidah menyebut dampaknya bisa sangat serius.

“Yang paling kelihatan itu berat badan naik, lama-lama obesitas. Setelah itu bisa muncul penyakit metabolik, bahkan diabetes melitus di usia muda,” ujarnya.

Ia berharap orang tua lebih peduli terhadap pola makan anak demi kesehatan jangka panjang.

“Gula itu bukan dilarang, tapi harus dikontrol. Kuncinya ada di peran orang tua,” pungkasnya. (*)

Reporter: Alvianita
Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *