Rumput Laut Diolah jadi Pupuk Organik dan Biofuel, Beri Nilai Tambah bagi Pembudidaya Lokal

benuanta.co.id, TARAKAN – Pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku pupuk organik dan biofuel mulai dikembangkan sebagai upaya meningkatkan nilai tambah hasil produksi pembudidaya lokal. Inovasi ini dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru bagi petani rumput laut di daerah.

Proses pengolahan dilakukan dengan cara memeras atau mempress rumput laut untuk mengambil airnya. Air hasil pemerasan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku biofuel, sementara ampasnya diolah menjadi pupuk organik.

“Rumput laut ini nanti dipress, airnya digunakan untuk biofuel, dan ampasnya untuk pupuk organik,” ujar Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Dinas Perikanan Kota Tarakan, Husna Ersant Dirgantara.

Ia menjelaskan, setelah melalui proses pemerasan, ampas rumput laut dicacah halus dan dijemur hingga kering. Selanjutnya, bahan tersebut kembali diolah hingga berbentuk serbuk menyerupai bubuk kopi yang siap digunakan sebagai pupuk organik.

Baca Juga :  Google Lens Tak Berlaku Lagi pada QR Code Dokumen Dukcapil 

Produk pupuk organik berbahan dasar rumput laut ini telah lebih dulu dikembangkan di Bali. Ke depan, pengelola berencana membangun pabrik pengolahan di daerah, sehingga proses produksi dapat dilakukan langsung di wilayah asal bahan baku.

“Rencananya memang mau bangun pabrik di sini. Tapi sementara ini masih dikirim dulu ke Bali, baru dari sana diekspor lewat Surabaya,” jelasnya.

Terkait harga jual, produk pupuk organik ini masih mengikuti harga pasar atau harga ekonomi. Produk tersebut merupakan hasil produksi perusahaan pengelola yang telah memberikan contoh hasil olahan kepada pihak-pihak terkait.

Baca Juga :  Program Satu Rumah Satu Jumantik Mampu Turunkan Kasus DBD di Tarakan 

Dalam proses pengolahannya, rumput laut tidak melalui tahap fermentasi. Seluruh tahapan dilakukan secara langsung, mulai dari pemerasan, pengeringan, hingga penghalusan, tanpa tambahan bahan lain.

Husna membeberkan, pengolahan rumput laut ini telah berjalan sejak sekitar tahun 2020. Selama beberapa tahun terakhir, hasil produksi mengalami fluktuasi, baik peningkatan maupun penurunan, tergantung pada kondisi cuaca dan hasil budidaya.

Bahan baku utama berasal dari para pembudidaya rumput laut lokal. Dengan adanya pengolahan lanjutan ini, diharapkan kesejahteraan petani dapat meningkat melalui nilai jual produk yang lebih tinggi.

Selain menghasilkan pupuk organik, air hasil pemerasan rumput laut juga dikembangkan menjadi biofuel sebagai bahan bakar alternatif. Biofuel tersebut dinilai lebih ramah lingkungan karena berbahan dasar rumput laut, berbeda dengan biosolar yang berasal dari kelapa sawit.

Baca Juga :  Anggaran Terpangkas, Disdukcapil Tarakan Sulit Ambil Blanko KTP ke Pusat

“Kalau biofuel ini lebih ke bahan bakar alternatif. Mirip biosolar, tapi bahan bakunya bukan sawit, melainkan rumput laut,” tambahnya.

Guna mendukung pengembangan industri ini, koordinasi dengan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) juga akan dilakukan. Saat ini, Perumda dipimpin oleh Dahlan, dengan pelaksana teknis di lapangan dikoordinasikan oleh Yakob.

Ia berharap, pengelola berharap sinergi antara pemerintah daerah, Perumda, dan pembudidaya dapat mempercepat realisasi pembangunan pabrik pengolahan di daerah, sehingga potensi rumput laut lokal dapat dimanfaatkan secara maksimal. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *