benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tarakan sepanjang tahun 2025 tercatat mengalami penurunan signifikan dibandingkan dua tahun sebelumnya, seiring penguatan upaya pencegahan berbasis masyarakat dan pengendalian sarang nyamuk dari tingkat rumah tangga.
Pengelola Program DBD Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Junarti, menyebutkan sepanjang 2025 terdapat 90 kasus DBD yang tersebar di seluruh wilayah Tarakan. Dari jumlah tersebut, kasus terbanyak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Karang Rejo, Tarakan Barat. “Tahun 2025 ada 90 kasus dan paling banyak memang di wilayah Karang Rejo,” ungkapnya, Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, angka tersebut menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam. Pada 2024 tercatat 264 kasus, sementara pada 2023 mencapai 419 kasus. “Kalau dibandingkan 2024 dan 2023, ini jelas ada penurunan yang cukup signifikan,” katanya.
Menurutnya, penurunan kasus DBD tidak lepas dari berbagai upaya pencegahan yang dilakukan secara masif dan terkoordinasi di lapangan. Dinas kesehatan melibatkan tenaga puskesmas, kader kesehatan, hingga lintas sektor. “Kami turun bersama tim puskesmas, kader, kelurahan, posyandu, sampai ketua RT,” jelasnya.
Salah satu strategi utama yang dijalankan adalah program Satu Rumah Satu Jumantik, khususnya di wilayah dengan risiko tinggi berdasarkan pemetaan kasus. Dalam program ini, setiap rumah didorong memiliki kader pemantau jentik dari anggota keluarga sendiri.
“Yang paling tahu ada jentik atau tidak itu kan pemilik rumah, karena tempat penampungan airnya ada di rumahnya,”
terangnya.
Junarti juga mengungkapkan pada tahun 2025 terdapat satu kasus kematian akibat DBD, menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencatat dua kematian. Meski demikian, ia menegaskan kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. “Walaupun kematiannya menurun, kita tidak boleh lengah,” tegasnya.
Ia menjelaskan, nyamuk DBD berkembang dari jentik yang hidup di genangan air di sekitar permukiman. Beberapa lokasi yang sering luput dari perhatian justru menjadi tempat favorit nyamuk bertelur. “Bambu yang ditebang bisa menyimpan air, lalu di situlah nyamuk bertelur dan muncul jentik,” bebernya.
Selain itu, benda-benda seperti pot tanaman atau wadah di bawahnya yang menampung air juga kerap menjadi sarang jentik. Karena itu, ia menekankan pentingnya pemberantasan jentik dari sumbernya. “Kalau jentiknya tidak dibasmi, nyamuknya akan terus berkembang,” lanjutnya.
Terkait upaya fogging, Junarti menegaskan metode tersebut tetap dilakukan, namun tidak menjadi fokus utama pencegahan. Fogging hanya dilakukan di wilayah yang benar-benar terjadi penularan. “Fogging tidak rutin karena nyamuk bisa beradaptasi dan jadi lebih kuat,” tegasnya.
Ia menambahkan, fogging juga tidak efektif jika tidak dibarengi dengan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus. Program ini meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas, serta langkah tambahan seperti menabur larvasida dan menggunakan kelambu. “Fogging tanpa 3M Plus itu tidak akan maksimal,” paparnya
Junarti mengimbau masyarakat untuk rutin melakukan 3M Plus secara mandiri di rumah masing-masing agar tidak terjadi penularan DBD. Ia menegaskan peran warga sangat menentukan keberhasilan pencegahan. “Kalau air tidak tergenang dan jentik dibasmi, nyamuk pembawa virus DBD tidak akan berkembang,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







