Viral Grup FB ‘Gay tanjung selor city’, Anggota Grup Terus Bertambah, Psikolog Soroti Dampak Psikologis Remaja

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Sebuah grup media sosial yang diduga berisi komunitas penyuka sesama jenis di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, mendadak menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Jika prilaku menyimpang tak dibenarkan, lantas kenapa ada yang berani membuat grup yang mengatasnamakan kelompok LGBT dan memakai nama daerah di Kalimantan Utara.

Grup tersebut disebut memiliki sekitar seribu anggota dan berisi sejumlah unggahan yang dinilai tidak pantas oleh sebagian masyarakat.
Viralnya informasi ini memicu kekhawatiran, terutama terkait kemungkinan dampak terhadap anak-anak dan remaja yang aktif di dunia digital.

Psikolog Tanjung Selor, Amalia Laili Barokah, menilai fenomena kemunculan komunitas di media sosial bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba. Ia menyebut ada banyak faktor yang bisa memengaruhi.

Baca Juga :  Pemkab Bulungan Genjot Sertifikasi Aset Daerah

“Media sosial adalah ruang yang sangat terbuka. Di sana, komunitas mudah terbentuk dan saling menguatkan satu sama lain,” ujar Amalia saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (26/1/2026).

Menurutnya, perkembangan isu identitas seksual saat ini kerap dipandang sebagai tren di kalangan remaja. Paparan informasi global melalui internet serta dukungan dari komunitas daring dapat memengaruhi cara anak muda memahami dirinya.

“Paparan informasi dari luar, ditambah dukungan komunitas di dunia maya, bisa membuat sebagian remaja mengalami kebingungan dalam memahami identitas dirinya,” jelasnya.

Amalia menambahkan, dari sisi psikologis, konflik antara penerimaan diri dan realitas sosial bisa menimbulkan tekanan mental yang tidak ringan.

Baca Juga :  Visitasi Kemenkes RI di RSD Tanjung Selor, Status Tipe B Tunggu Keputusan

“Konflik batin yang berkepanjangan bisa berdampak serius pada kesehatan mental dan perilaku seseorang,” tegasnya.

Ia mendorong adanya peran aktif pemerintah daerah dalam pengawasan konten media sosial yang berpotensi merugikan masyarakat. Menurutnya, langkah tegas perlu dipertimbangkan agar ruang digital tidak menjadi tempat pembenaran sosial bagi hal-hal yang dinilai berisiko.

Selain itu, Amalia menekankan pentingnya edukasi seksual yang tepat bagi remaja.

“Edukasi ini bukan untuk mengajarkan perilaku seksual, tetapi memberi pemahaman tentang fungsi tubuh, batasan diri, serta dampak kesehatan dan sosial,” katanya.

“Kalau tidak dibekali pemahaman yang benar, anak-anak justru akan mencari informasi sendiri dari sumber yang belum tentu tepat,” tambahnya.

Baca Juga :  Kebakaran di Tugu Lemlai Suri Hanguskan 11 Kios dan Rumah Warga

Sementara itu, Sekretaris FKPT Kaltara, Rano Liling, mengaku pihaknya telah mengetahui keberadaan grup tersebut. Ia menyebut jumlah anggota grup terus bertambah.

“FKPT hanya mendorong koordinasi. Untuk teknis penindakan dan program, tetap menjadi kewenangan OPD terkait dan kepolisian,” ujarnya.

Rano menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk melakukan penjagaan dan deteksi dini.

“Kalau memang ada koordinator atau pihak yang menggerakkan, itu perlu ditindak. Jangan sampai dibiarkan,” tegasnya.

Masyarakat pun diimbau untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak dan remaja di media sosial. Peran keluarga dinilai penting agar generasi muda tidak mudah terpapar konten yang dinilai berdampak negatif bagi perkembangan mereka. (*)

Reporter: Alvianita
Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *