Dinkes Bulungan Akui Sulit Identifikasi LGBT, Deteksi HIV Banyak Lewat Screening

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) kembali ramai dibincangkan. Tak ketinggalan di Kalimantan Utara (Kaltara) yang mulai menjamur. Di Bulungan, Dinas Kesehatan (Dinkes) akui bahwa pendataan LGBT tidak mudah dilakukan.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinkes Bulungan, Imam Sujono. Menurutnya, tidak semua individu menampilkan identitas atau perilaku yang dapat dikenali secara kasat mata.

Imam Sujono menjelaskan orientasi seksual tidak selalu tampak dari penampilan seseorang. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya identifikasi dan pendataan kelompok berisiko.

“LGBT ini kan susah dilihat. Bisa jadi dia tidak berpenampilan seperti wanita atau tidak menunjukkan ciri tertentu. Itu yang membuat kami kesulitan untuk mengidentifikasi apakah seseorang termasuk LGBT atau tidak,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).

Baca Juga :  Bupati Bulungan Janjikan Rekonstruksi Bertahap Rumah Adat Lamin di Long Peso

Imam menegaskan tugas dinas kesehatan bukan untuk melakukan pelarangan terhadap perilaku seseorang, melainkan fokus pada upaya pencegahan dan pengendalian penularan penyakit.

“Tugas kami bukan melarang orang berhubungan atau mendatangi tempat tertentu. Tugas kami adalah mencegah penularannya. Kalau seseorang dinyatakan positif HIV, maka kewajiban kami adalah memberikan pengobatan,” tegasnya.

Ia memastikan seluruh pasien HIV, tanpa membedakan latar belakang, mendapatkan layanan pengobatan secara gratis. Obat antivirus diberikan seumur hidup dan bersumber dari pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan.

Baca Juga :  Diduga Gunakan Ijazah Palsu, Anggota DPRD Bulungan Resmi Jadi Tersangka

“Kalau sudah positif HIV, obat antivirus itu diminum seumur hidup dan semuanya gratis. Obatnya dari Kementerian Kesehatan,” jelas Imam.

Selain pengobatan, Dinkes juga menjaga kerahasiaan identitas Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Pengambilan obat pun diatur agar tidak bercampur dengan pasien umum, demi menjaga privasi dan kenyamanan pasien.

“Identitas mereka kami rahasiakan betul. Tidak boleh sembarang orang tahu, karena kalau bocor kasihan mereka. Saat mengambil obat pun tidak dicampur dengan pasien lain,” ujarnya.

Imam mengungkapkan, jumlah kasus HIV di Bulungan terus mengalami peningkatan setiap tahun. Namun, angka yang terdata belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.

Baca Juga :  Pemkab Bulungan Beri Waktu 50 Hari OPD Rampungkan Sisa Kegiatan APBD 2025

“Kalau data, kita selalu meningkat. Tapi ini ibarat fenomena gunung es. Yang tercatat mungkin sekitar 40-an orang yang masih hidup, tapi realitanya bisa lebih banyak kalau semuanya diperiksa,” ungkapnya.

Untuk menekan laju penularan, Dinkes Bulungan juga aktif melakukan kegiatan pencegahan melalui sosialisasi dan penyuluhan ke sekolah-sekolah serta kelompok masyarakat berisiko. Program tersebut didanai melalui APBD, sementara pengobatan tetap menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.

“Kegiatan pencegahan seperti penyuluhan ke SD, SMP, SMA dan kelompok tertentu itu dibiayai APBD. Tapi kalau obat antivirus, itu dari pusat,” pungkasnya. (*)

Reporter: Alvianita
Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *