Supa’ad Hadianto: Anak Muda Jangan hanya Ikut Tren, Pilihan Politik Harus Rasional

benuanta.co.id, BULUNGAN – Komposisi pemilih pada Pemilu 2029 diprediksi akan didominasi oleh generasi muda. Di Kalimantan Utara (Kaltara), kelompok pemilih yang akrab dengan teknologi ini dinilai menjadi kekuatan besar sekaligus tantangan bagi peningkatan kualitas demokrasi.

Anggota DPRD Kaltara, Supa’ad Hadianto, mengatakan bahwa besarnya gelombang pemilih muda harus diimbangi dengan peningkatan literasi politik agar mereka tidak mudah terpengaruh informasi keliru yang beredar di media sosial.

“Trennya, sekitar 60 persen pemilih pada 2029 nanti adalah anak muda. Ini potensi besar sekaligus tanggung jawab besar. Karena itu yang perlu dipersiapkan bukan hanya kuantitas pemilih, tetapi juga kualitasnya,” ujarnya, Jumat (5/12/2025)

Baca Juga :  DPRD Kaltara Bentuk Pansus Bahas Delapan Ranperda

Ia menilai kemampuan berpikir kritis menjadi kunci bagi pemilih muda, terutama di tengah derasnya arus informasi digital. Disinformasi dan kampanye negatif disebut masih menjadi ancaman yang dapat memengaruhi pilihan politik.

“Anak muda paling sering terpapar konten media sosial. Mereka perlu cerdas memilah informasi. Pilihan politik sebaiknya lahir dari penilaian rasional, bukan ikut-ikutan tren atau ajakan tanpa memahami substansi,” tegasnya.

Supa’ad juga menekankan pentingnya peran dunia pendidikan dalam membangun kesadaran politik. Ia menyebut sekolah dan kampus dapat menjadi ruang pembelajaran demokrasi melalui organisasi, ekstrakurikuler, dan aktivitas sosial.

Baca Juga :  DPRD Kaltara Bentuk Pansus Bahas Delapan Ranperda

“Pendidikan politik tidak bisa hanya dilakukan menjelang pemilu. Ini harus menjadi proses pembelajaran berkelanjutan melalui kegiatan di sekolah, kampus, maupun lingkungan masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah dan DPRD turut bertanggung jawab membuka ruang partisipasi bagi generasi muda dalam pembangunan, baik melalui diskusi publik, kegiatan sosial, maupun pelatihan kepemudaan.

“Ketika anak muda diberi ruang berpendapat dan terlibat dalam proses kebijakan, mereka akan merasa memiliki daerah ini. Bukan hanya jadi penonton, tapi ikut menjadi bagian dari perubahan,” katanya.

Supa’ad juga mengingatkan peran pemuda sebagai perekat sosial di tengah perbedaan politik. Ia berharap anak muda menjadi contoh dalam menjaga etika berdiskusi dan menghargai pandangan yang berbeda.

Baca Juga :  DPRD Kaltara Bentuk Pansus Bahas Delapan Ranperda

“Jangan sampai politik memecah belah. Anak muda justru harus menjadi teladan dalam berdialog secara santun dan menghargai perbedaan,” tuturnya.

Ia mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, hingga organisasi masyarakat, untuk bersama memperkuat literasi politik di Kaltara.

“Kita ingin pemilih muda yang bukan hanya datang ke TPS, tetapi juga memahami alasan mereka memilih dan dampaknya bagi masa depan daerah,” pungkasnya. (*)

Reporter: Ike Julianti

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *