benuanta.co.id, TARAKAN – Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan memastikan distribusi LPG subsidi 3 kg di Kalimantan Utara berjalan lancar dan sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET), Sabtu (8/2/2025).
Area Manager Communication & CSR Kalimantan, Edi Mangun, menegaskan Pertamina berkomitmen penuh untuk menjaga pasokan LPG subsidi tetap aman bagi masyarakat yang berhak.
“Kami mengimbau masyarakat untuk membeli LPG 3 kg di pangkalan resmi dengan harga sesuai HET agar distribusi berjalan adil dan tertib,” ujarnya.
Edi mengemukakan dalam upaya memperlancar distribusi, Pertamina juga mengoptimalkan peran sub pangkalan, yaitu warung kelontong atau pengecer yang sebelumnya terdaftar di Merchant Apps Pertamina (MAP) dan kini beralih menjadi sub pangkalan resmi.
“Langkah ini diharapkan memudahkan masyarakat dalam memperoleh LPG 3 kg dengan harga yang sesuai aturan,” tambahnya.
Untuk menjaga kestabilan pasokan, Edi menjelaskan Pertamina juga menyiapkan stok cadangan jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan permintaan.
“Kami menjamin ketersediaan LPG 3 kg tetap aman. Masyarakat tidak perlu panic buying karena pasokan telah diatur sesuai kebutuhan,” imbuhnya.
Edi menjelaskan saat ini, realisasi distribusi LPG 3 kg di Kalimantan Utara per 6 Februari 2025 telah mencapai 357.080 tabung, dengan rata-rata distribusi harian sebanyak 11.902 tabung.
“Kami mengajak masyarakat yang tergolong mampu dan pelaku usaha non-mikro, untuk beralih menggunakan LPG nonsubsidi seperti Bright Gas 5,5 kg dan 12 kg,” tegasnya.
Untuk memastikan masyarakat mendapatkan LPG 3 kg sesuai harga yang ditetapkan, Edi mengimbau agar warga membeli di pangkalan resmi.
Meski Pertamina memastikan pasokan aman, sejumlah warga mengaku masih kesulitan mendapatkan LPG 3 kg. Keluhan datang dari Sumiati, pemilik warung makan di Jalan Niaga II, Kelurahan Karang Balik, Tarakan.
Ia berharap distribusi LPG bisa lebih merata agar pelaku usaha kecil tidak kesulitan mendapatkan gas subsidi. “Kadang harus antre lama, kalau stok kosong, kami terpaksa pakai LPG nonsubsidi yang harganya lebih mahal,” ungkapnya.
Sementara itu, Budiman, seorang warga Tarakan, menilai kebijakan pembelian di pangkalan resmi memang bagus, tetapi distribusinya masih belum merata.
“Kalau stok di pangkalan selalu tersedia, pasti kami beli di sana. Tapi kenyataannya, sering kali kami kehabisan stok padahal sudah antre lama,” tutupnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







