53 Persen Suara Pemilu Berasal dari Generasi Muda

benuanta.co.id, TARAKAN – Era digitalisasi turut menjadi tantangan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam memperkuat basis pemilih. Berdasarkan data peningkatan partisipasi, di era digital ini basis pemilih pemula menjadi hal yang paling menonjol.

Dikatakan Komisioner KPU Provinsi Kaltara Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih Partisipasi Masyarakat dan Sumber Daya Manusia (SDM) KPU Kaltara, Hariyadi Hamid secara kuantitas pemilih pemula adalah basis terbesar untuk mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Sayang juga kalau memilih tapi tidak memilih dengan benar. Apalagi tidak memilih dalam konteks tidak ada pilihan. Itu bisa berpotensi pemilih dengan suara rusak,” terangnya, Rabu (27/9/2023).

Dilanjutkannya, pemilih pemula juga berpotensi memilih tapi dengan kualitas pilihan terbatas. Hal ini yang terus ditekankan KPU agar basis pemilih pemula juga berpartisipasi aktif dalam tahapan pemilu. Semisal, menjadi penyelenggara pemilu di tingkat kecamatan, desa maupun kota, atau terlibat menjadi anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Kaltara sendiri telah mengakumulasikan jumlah pemilih pemula pada 2024 yakni sebanyak 8 persen.

Baca Juga :  DPRD Nunukan Minta Pemda Bentuk Perda Realisasi Harga Rumput Laut 

“Pemilih pemula itu ada dua kategori. Pertama baru lulus SMA, atau dia pensiunan TNI Polri. Sudah tua tapi belum pernah nyoblos. Beda kalau pemilih muda,” sambung Hariadi.

Berdasarkan angka nasional, pemilih muda di Indonesia mencapai 53 persen sehingga arah dan masa depan bangsa ditentukan oleh pemuda. Suara dari pemilih muda ini sangat menunjang demokrasi, lantaran separuh dari suara berada pada generasi milenial.

Baca Juga :  DPW PKB Kaltara Dikukuhkan, Target 19 Kursi Pileg 2029

“Makanya fokus utama kami ke pemilih pemula dan muda. Sembari melihat by case lainnya,” sebutnya.

Sementara itu, Analis Politik Exposit Strategic Dosen LSPR Jakarta, Arif Susanto mengatakan demokrasi Indonesia ke depan bergantung kepada kalangan milenial. Sementara pada kontestasi politik 2024 akan ada pemimpin baru setelah dua periode kepemimpinan Joko Widodo.

“Nantinya akan muncul generasi muda yang mengubah arah negara. Apakah kualitasnya meningkat ke depan atau bahkan menurun. Bukan hanya pada panitia penyelenggara, bukan hanya pada peserta tapi juga pemilih,” kata dia.

Baca Juga :  Gubernur Kaltara Ajak Kader PKB Hadir di Tengah Masyarakat

Dalam penekanannya, ia menganjurkan agar pemilih pemula dapat aktif dalam dunia politik terutama mengetahui figur calon, melakukan kontrol, dan menjadi warga negara yang aktif bahkan setelah pemilihan usai.

“Pemilih pemula ini sangat berpeluang untuk tidak memilih, dikarenakan kesulitan teknis terutama pengenalan cara pemilihan baru, seseorang tidak memiliki pilihan yang memadai, dan apatisme politik.

Menurutnya, tugas KPU masih akan berlanjut meski pemilu sudah usai. Ia berharap, dukungan dari stakeholder lain dapat berkontribusi agar prinsip pemilu Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia Jujur dan Adil (Luberjurdil) dapat berjalan damai. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Nicky Saputra

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *