benuanta.co.id, TARAKAN – Usia remaja merupakan masa kaum muda mengejar jati diri serta mengembangkan identitas dirinya. Namun bagaimana jika mereka memutuskan untuk melakukan pernikahan dini, lantas apa dampaknya secara psikologis ke depannya.
Usia belia atau usia remaja bisa dikatakan kondisi mentalnya belum matang. Di usia yang masih muda biasanya remaja-remaja masih bergelut mencari jati diri, masih bingung kemana akan mengarahkan masa depannya, dan belum sepenuhnya berani untuk berkomitmen serta adanya ketidakstabilan emosi. Nah, menikah di usia dini inilah yang biasanya menjadi jalan pintas dari ketidakstabilan dan ketidakmatangan psikologis.
Psikolog Klinis Remaja dan Dewasa, Ratih Musfianita, M.Si., M.Psi., Psikolog menjelaskan, usia belia merupakan kondisi dimana para remaja masih bergelut mencari jati diri dan belum berani komitmen lantaran kondisi mentalnya yang belum matang.
‘’Menikah di usia dini kerap dijadikan jalan pintas akibat dari ketidakstabilan dan ketidakmatangan secara psikologis,’’ucap Ratih pada Kamis (3/8/2023).
Jika ditarik ke belakang, perlu diketahui terlebih dahulu alasan yang melatarbelakangi para remaja untuk memutuskan untuk menikah muda. Apakah akibat desakan atau keinginan orang tua atau juga merupakan keinginan pribadi.
Meskipun keinginan tersebut dari orang tua atau remaja itu sendiri. Tentu akan ada dampak yang dialami pasangan muda itu kelak. Pasangan yang kondisi mentalnya belum stabil tentu rentan mengalami kecemasan hingga depresi ketika menghadapi permasalahan rumah tangga. Akibatnya pasangan muda tersebut tentu akan mudah bertengkar sekalipun hanya permasalahan kecil.
Ratih mengungkapkan penyebab terjadinya pernikahan dini di antaranya akibat desakan atau keinginan orang tua agar anak terhindar dari zina. Jika di tinjau dari segi ekonomi alasan orang tua menikahkan anaknya lantaran orang tua terhimpit hutang.
‘’Satu-satunya solusi ialah menikahkan anak agar utang orang tua lunas atau setidaknya hutang bisa terbayarkan dengan mengharapkan hasil sumbangan dari acara pernikahan tersebut. Fenomena ini kerap terjadi.’’ ungkap Ratih melalui pesan singkat.
Jika dilihat dari status sosial, keluarga dari calon pengantin adalah orang terpandang sehingga anak didesak untuk melakukan pernikahan. Faktor lainnya ialah, kurangnya pengetahuan dari orang tua dan calon pengantin tentang pernikahan.
‘’Akan ada pengalaman-pengalaman baru yang akan terjadi dalam kehidupan berumahtangga. Bahkan karakter dari pasangan pun akan terlihat aslinya ketika sudah berkeluarga yang kemungkinan bisa menimbulkan prasangka buruk tentang pasangan akibat belum sepenuhnya mengenali sosok pasangan secara personal,’’ tuturnya.
Dalam membantu individu yang terlibat dalam pernikahan dini, Ratih memberikan psikoedukasi terkait pernikahan tentang bagaimana cara mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupan berumahtangga, serta mencari solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
Selain itu, ia memberikan masukan-masukan bagaimana menjaga komitmen serta membuat perencanaan yang matang saat ingin memiliki momongan dan juga mengajarkan komunikasi dua arah yang tepat guna meminimalisir kesalahpahaman saat menjalani kehidupan berumahtangga.
‘’Sebagai psikolog yang bisa saya lakukan berupa konseling dan psikoedukasi, serta psikoterapi apabila diperlukan sesuai dengan kebutuhan klien,’’ bebernya.
Sebagai saran dan edukasi, Ratih menyarankan kepada remaja agar mementingkan pendidikan sebelum memutuskan untuk menikah. Karena untuk menjadi orang tua harus cerdas terutama dalam mengasuh anak. Selain itu, meraih cita-cita lalu menikah itu sangatlah penting agar nantinya pasangan memiliki waktu luang untuk bisa lebih fokus pada keluarganya.
‘’Persiapan mental seperti manajemen emosi agar tidak mudah terpengaruh dari hal-hal yang akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Kesiapan mental sangat diperlukan agar mudah mengendalikan emosi ketika dihadapkan pada masalah-masalah yang akan terjadi,’’ ujarnya.
Pendewasaan dalam berfikir juga diperlukan agar mudah menyikapi berbagai permasalahan dan mampu menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi.
‘’Lebih lanjutnya, calon pasangan muda bisa berkonsultasi ke psikologi terdekat untuk mendapatkan edukasi pranikah dan kesiapan mental sebelum memutuskan untuk menikah,’’ tutupnya.(*)
Reporter: Okta Balang
Editor: Ramli







