benuanta.co.id, TARAKAN – Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tarakan telah menerima 3 laporan terkait destructive fishing. Adapun lokus dari aktivitas oknum masyarakat yang melakukan penangkapan ikan menggunakan bom ini didominasi di Pulau Derawan, Berau.
Kendati laporan yang masuk belum berupa aduan resmi, hal inipun menjadi analisis pihaknya untuk membuat strategi khusus untuk mengungkap oknum bom ikan.
“Ketika kita memakai kapal patroli kita perlu strategi khusus. Karena memang dari jauh sudah dilihat kapal patroli kita dan ya langsung lari, jadi kita tidak dapat. Yang ada hanya ikannya saja,” ucap Kepala Stasiun PSDKP Tarakan, Johanis Medea, Ahad (30/7/2023).
Dilanjutkannya, pengejaran terhadap oknum ini sering kali bocor. Terlebih, kapal patroli Stasiun PSDKP berada di Tarakan yang dinilai jauh dari lokus laporan dari informasi masyarakat. Didominasi, bom ikan kerap kali terjadi di perairan Derawan dan Maratua, lantaran ikan demersal yang lebih banyak dan keindahan ekosistem laut di perairan tersebut.
“Tentu kita harus tindak kalau tidak kerusakan ekosistem akan semakin luas dan berdampak ke perekonomian. Di tiga wilayah kerja kita paling banyak di Berau. Kalau di perairan Kaltara juga airnya juga coklat juga ya,” lanjutnya.
Disinggung menyoal upaya pencegahan, pihaknya telah melakukan kerjasama dengan kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) dan aparat kampung setempat. Plang himbauan juga telah dipasang di perairan Derawan dan Maratua.
“Kalau sosialisasi itu umum. Masyarakat bilang belum tahu, tapi jelas-jelas itu pidana. Kita sudah pasang plang. Setiap orang yang menggunakan bom itu dapat dipidana kurungan badan sekian-sekian,” imbuh Johanis.
Dari ketiga laporan itu, pihaknya masih nihil mendapati oknum pengeboman ikan. Momen pertama patroli pihaknya hanya mendapati perahu beserta barang bukti detonator dan ikan demersal di wilayah perairan Berau. Pengejaran terhadap oknum tersebut terjadi pada pertengahan Juli 2023.
“Saat itu kurang lebih ikannya kita dapati 5 kiloan, ikannya seperti kakap dan kerapu. Ya mungkin baru mau melakukan dia jadi belum terlalu banyak,” tutupnya.(*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Ramli







