Wabah PMK, Harga Daging Jelang Idul Adha Naik

benuanta.co.id, TARAKAN – Dua Minggu menjelang Idul Adha atau Hari Raya Kurban pihak pemerintah Kota Tarakan melakukan antisipasi dalam penyediaan stok daging sapi. Terlebih, wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi sedang menjadi tren saat ini.

Kepala Dinas Peternakan Pertanian Tanaman Pangan (Disnaktangan) Kota Tarakan, Elang Buana menjelaskan bahwa pihaknya telah membentuk tim dari bidang peternakan dan kesehatan hewan (PKH). Tim ini guna melakukan seleksi terhadap sapi-sapi maupun daging yang masuk ke wilayah Tarakan.

“Ini (daging sapi) memang ada beberapa walaupun memang jumlahnya masih kurang, tanggal 23 nanti akan datang lagi stoknya,” sebutnya, Selasa (21/6/2022).

Wilayah Tarakan pun juga belum menerima adanya laporan dari peternak jika ada sapi yang terkena wabah. Tarakan pun dinyatakan bebas dari PMK berdasarkan surveilance.

Baca Juga :  Dinkes Tarakan Tingkatkan Kewaspadaan Virus Nipah

“Alhamdulillah di sini tidak ada PMK, tapi untuk daerah Jawa kasihan banyak ternak mati. Jadi kita lebih baik mencegah dari mengobati, karena kalau sudah kena PMK itu lebih susah diobati,” tuturnya.

“Jelang qurban, Tarakan masih terbilang aman. Kita sudah sepakat dengan Provinsi Gorontalo yang relatif aman, di sana (Gorontalo) jadi rebutan daging sapinya, kita ingin ada ikatan antara Gorontalo dengan Tarakan supaya menjamin ketersediaan untuk kebutuhan masyarakat Tarakan,” sambung Elang.

Dikatakan Elang saat ini, PMK juga berdampak terhadap harga sapi yang cenderung naik. Hal ini dikarenakan wilayah Jawa yang tadinya merupakan sumber ternak sapi terkena wabah PMK.

Baca Juga :  Dinkes Tarakan Imbau Warga Jaga Imunitas dan Terapkan PHBS di Musim Pancaroba

“Dari dulu kita sudah bekerjasama, dulu memang ada daging dari NTB tapi kita coba stok lah. Lebih baik kita cari daerah selektif seperti Gorontalo Utara,” sebutnya.

Elang menjelaskan, bahwa sapi yang terkena PMK ini masih bisa dikonsumsi, namun harus melalui proses pemasakan yang baik karena PMK tidak menular ke manusia melainkan menular ke hewan lain.

Adapun kebutulan sapi jelang Idul Adha tahun ini sebanyak 1.500 ekor sedangkan tahun 2021 lalu 1.400 ekor. Artinya angka kebutuhan ini cenderung naik sekitar 6 persen.

“Biasanya memang ada kenaikan setiap tahunnya. Meski sapi mahal, tapi kalau orang Tarakan yang penting bisa motong sapi, nggak mikir uang,” tandasnya.

Baca Juga :  Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Pastikan Stok dan Penyaluran LPG 3 Kg di Tanjung Selor Tetap Aman dan Terkendali

Terpisah, Rosmini (44) yang sering berbelanja daging untuk kebutuhan jualan baksonya mengaku merasakan perbedaan harga daging saat ini. Ia pun mengetahui terkait wabah PMK yang tengah menyerang sapi.

“Biasanya itu saya kalau belanja pagi-pagi sekali tidak sampai Rp 100 ribu harganya karena langganan kan, tapi ini saya kaget hampir Rp 150 ribu,” tegasnya.

Kendati begitu, ia tetap memilih untuk membeli karena daging sapi merupakan bahan utama untuk ia membuat bakso guna berjualan.

“Tapi kalau sapi di Tarakan seperti nya belum ada itu PMKnya, ya semoga tetap sehat-sehat terus sapinya supaya saya tetap bisa berjualan,” tutupnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Matthew Gregori Nusa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *