Wisata Hutan di Nunukan, Spot Favorit Outbound Keluarga

benuanta.co.id, NUNUKAN – Para pecinta alam, objek wisata Borneo Floresta di Jalan Persemaian Kabupaten Nunukan, dimanfaatkan oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Floresta menjadi kawasan wisata yang mempesona.

Lokasi dengan luas 75 hektare ini seringkali dijadikan wisata outbound dan sudah mendapatkan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Beragam daya tarik wisata Borneo Floresta ini. Mulai dari wisata kebun kopi, tenun kain, pembuatan kompos, roasting kopi, camping ground, wisata pendidikan, outbond dan pembiakan ulat sutra.

Menikmati pemandangan hutan yang asri ini, pengunjung hanya merogoh kocek Rp 2.000 untuk tiket kendaraan roda dua, dan Rp 5.000 untuk mobil.

Baca Juga :  Deteksi Penyakit Menular, Lapas Nunukan Gencarkan Screening Warga Binaan

Kemudian untuk fasilitas flying fox juga tergolong ekonomis yakni hanya dipatok Rp 5.000 anak-anak, dan Rp 10.000 bagi dewasa. Selain itu pengunjung cukup bayar Rp 10.000 bisa bermain Burma bridge dan Net bridge sepuasnya.

Tak kalah dengan wahananya, pembiakan ulat sutra juga menjadi primadona bagi wisatawan.

Ketua KTH Floresta Nunukan, Laurensius mengatakan pembuatan benang sutra ini dilakukan sejak tahun 2018 lalu, namun tak berjalan maksimal.

Baca Juga :  Kekayaan Alam Krayan Terhalang Infrastruktur

Pihak KTH Floresta saat ini bekerja sama dengan KTH Wajo, untuk penyediaan telur ulat sutra.

Dalam pengiriman, kata dia, akan memakan waktu tiga hari. Saat sampai di Nunukan telur ulat akan menetap dan dilanjutkan ke tahap pemeliharaan selama 21 hari.

“Jadi, selama 21 hari ini kita kasih pakan. Yaitu daun murbei. Kita juga tanam sendiri murbeinya. Kalau sudah jadi kokon, nggak usah diberikan makan. Tapi kita langsung jemur kokonnya agar ulat di dalamnya mati dan tidak keluar menjadi kupu-kupu,” kata Laurensius, Ahad (19/6/2022).

Baca Juga :  BPBD Pasang Rambu Peringatan Rawan Bencana di Titik Rawan

Petugas Pendamping Lapangan (PPL) Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Sundari Rahmawati menyebut di kawasan tersebut terbentuk 3 kelompok yaitu Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Agroforestry, KUPS Hasil Hutan Bukan Kayu, KUPS Sadar Wisata.

“Kami step by step mengembangkan wilayah ini. Karena ini sifatnya jangka panjang, dan tetap memikirkan dampaknya yang sifatnya itu menguntungkan. Khususnya bagi masyarakat sekitar Persemaian. Target kami wisata ini sudah beroperasi setelah lebaran Idul Fitri ini,” tandasnya. (*)

Reporter : Darmawan

Editor : Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *