benuanta.co.id, BULUNGAN – Penerapan pembelajaran tatap muka (PTM) di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) utamanya pada jenjang sekolah menengah atas, kejuruan dan sederajat lainnya telah berlangsung secara penuh dengan kapasitas 100 persen.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kaltara menilai hal ini patut terlaksana, namun meminta tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
“Terkait PTM secara penuh di Kaltara memang di tahun ini kita sudah harus bersiap diri untuk berdampingan dengan virus Covid-19,” ungkap Anggota DPRD Provinsi Kaltara Khaeruddin Arief Hidayat kepada benuanta.co.id, Kamis 6 Januari 2022.
Dia melihat selama 2 tahun terakhir proses belajar mengajar tatap muka tidak pernah terjadi dengan maksimal. Sehingga dengan kebijakan pemerintah dengan memperhatikan kondisi Covid-19 yang melandai maka pelaksanaan PTM sudah bisa berjalan.
“Kita minta agar PTM di Kaltara tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” jelasnya.
Menurut Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) kni penerapan prokes diperlukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 jenis Omicron. Untuk itu meminta guru dan tenaga kependidikan agar memperhatikan secara serius para anak didiknya.
“Tentunya kita tidak bisa memprediksi bahwa 10 tahun akan datang virus ini akan hilang dari dunia. Sehingga kita yang harus menyesuaikan diri dan beradaptasi, karena kita tetap harus beraktivitas,” ucapnya.
Khaeruddin Arief Hidayat menuturkan selama ini dengan adanya bencana non alam ini sangat merusak dan banyak menghancurkan banyak hal. Tak hanya di bidang ekonomi, kesehatan juga terhadap pendidikan.
“Kita sudah banyak mengalah dengan adanya Covid-19, tentu banyak menghancurkan baik sendi ekonomi begitu juga kondisi anak didik kita dengan tidak adanya PTM. Kita berharap tahun ini sudah ada pemulihan dan anak didik kita melakukan tatap muka seperti biasanya,” paparnya.
Dirinya mengapresiasi karena di Kaltara masyarakat yang melakukan vaksinasi cukup tinggi. Salah satu syarat terlaksananya PTM pun dengan banyak anak sekolah yang telah melakukan vaksinasi. (*)
Reporter : Heri Muliadi
Editor : Yogi Wibawa







