benuanta.co.id, NUNUKAN – Seorang pemuda berinisial RN (21) warga Kelurahan Selisun, Kecamatan Nunukan Selatan, Kabupaten Nunukan, diduga dianiaya sejumlah oknum Polisi di Nunukan, Sabtu (26/12/2021) lalu.
Dari penganiayaan itu, hidung RN mengeluarkan darah, luka di lengan kiri, lutut dan luka lain di beberapa bagian tubuhnya.
Kejadian penganiayaan tersebut bermula saat RN bersama teman-temannya menonton pertandingan sepak bola sekira pukul 00.00 Wita. Usai menonton, RN bersama temannya berkumpul di depan toko di Jalan Tien Soeharto, tempat RN bekerja.
Beberapa saat kemudian, RN melambaikan tangan kepada pengendara motor yang melintas di depan toko tersebut. Korban mengira pengendara yang melintas tersebut adalah temannya.
Mendapat lambaian dari RN, pengendara tersebut menduga RN menantang. Enam orang yang diduga oknum Polisi tersebut langsung mendatangi RN dan terjadi adu mulut. Tak puas dengan adu mulut, aksi saling jotos RN dan pengendara tersebut juga tak terhindari.
“Pertama ditanya kenapa melambai, saya kira teman saya yang saya kenal, dari motor dan gayanya sama. Temannya dibelakang nantangin saya, saat itu saya tidak tau kalau itu adalah oknum polisi karena hanya menggunakan pakaian biasa,” kata RN Rabu, (30/10/2/2021).
Baca Juga :
- Mabes Polri Tindak Oknum Polisi Tidak Profesional
- Oknum Polisi Diamankan di Sebuku Nunukan, Diduga Terlibat Kasus Peredaran Narkotika
- Masyarakat Diminta Lapor Bila Lihat Oknum Polisi Masuki Hiburan Malam
“Saat itu yang bawa motor meminta untuk duel dengan yang diboncengnya. Tapi karena perawakannya kecil, dia suruh lawan saja. Saya (emosi) dengan reflek memukul duluan, saya emang salah karena memukul duluan, tapi posisi saya saat itu sudah dikeroyok,” tambahnya.
Usai melayangkan bogem mentah kepada salah satu pengendara, RN lantas ditodongkan pistol oleh oknum Polisi tersebut.
Sedangkan teman-teman RN yang berada di lokasi hanya bisa melerai perkelahian itu. Bahkan, teman RN pun sempat memberikan saran untuk dilakukan mediasi atau atur damai dan membawa persoalan ini diselesaikan di Polres. Hanya saja oknum Polisi tanpa seragam dinas itu menolaknya.
“Mereka berkata mereka adalah aparat, lebih tau hukum dari pada kami,” terangnya.
Setelahnya, RN kembali mendapat penganiayaan oleh oknum Polisi berpostur tinggi besar yang menodongkan pistol ke kepala sebelah kiri. Oknum ini meminta RN untuk jongkok di tengah jalan, sembari memukul kepala RN dengan pistol.
Tak sampai di situ, penganiayaan berlanjut yang mana RN dibawa menggunakan sepeda motor ke sebuah kos-kosan di wilayah Pasar Baru, Nunukan. Setibanya di kos tersebut, RN kembali mendapatkan pukulan bertubi-tubi hingga pukul 04.00 Wita.
“Rambut saya dipotong bukan gunakan gunting tapi pisau, saya disuruh diam jika saya bergerak dia bilang akan bisa terikut kulit dan saya dikatain macam-macam, sehingga saya pasrah saja,” terangnya.
RN juga menceritakan, salah satu oknum berinisial SP berusaha melerai namun tak diindahkan oleh teman-temannya. SP membantu RN agar tidak menjadi bulan-bulanan pemukulan dan sempat menyuruh untuk melepaskan RN agar dipulangkan.
“Pagi hari itu sempat saya melarikan diri karena melihat pintu tidak terkunci pada waktu selesai salat subuh. Namun saya didapat, saya diseret dan dipukuli dan diinjak-injak, saat itu saya sempat meminta tolong. Tapi tidak bisa karena mereka mengatakan aparat, jadi warga hanya melihat saja tidak bisa menolong,” katanya.
Berkat usaha SP, akhirnya korban baru bisa pulang yang langsung diantar oleh SP ke kediaman RN, sekira pukul 06.00 Wita.
Melihat anaknya babak belur, orang tua korban tak terima pun langsung mendatangi Polres Nunukan untuk melaporkan kasus penganiyaan tersebut.
“Setelah melaporkan kejadian itu ke Propam Polres Nunukan, langsung dilakukan visum di RSUD Nunukan,” imbuhnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kapolres Nunukan AKBP Ricky Hadianto, membenarkan adanya laporan atas peristiwa kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum anggota Polres Nunukan.
Dari laporan yang terima sementara ini, baru dua oknum anggota Polres Nunukan yang menjalani pemeriksaan Propam.
“Pelakunya adalah Polisi baru, langkah-langkah sudah saya ambil, Polisi baru yang masih bujang semua tidak boleh keluar asrama. Langkah ini diambil agar tidak terulang, jadi mereka tidak boleh meninggalkan asrama,” tegas AKBP Ricky Hadianto.
Terkait adanya penodongan senjata api, pemukulan, serta pemotongan rambut menggunakan pisau juga tidak dibantah oleh Kapolres Nunukan AKBP Ricky Hadianto.
“Informasi itu ada juga, tetap kemungkinan bukan dari kita, dan kita tidak tahu persis, dan saat ini masih dilakukan penyelidikan. Dan saat ini yang didalamin yang dibawa ke kos, kita akan menunggu hasil penyidikan Propam ,’’ pungkasnya. (*)
Reporter : Darmawan
Editor : Yogi Wibawa







