benuanta.co.id, TARAKAN – Hilangnya kemampuan hidung mencium bau dalam beberapa waktu terakhir dikaitkan dengan gejala infeksi Covid-19.
Namun, hidung tidak bisa mencium bau atau dalam dunia medis disebut anosmia ini juga dapat disebabkan oleh beberapa hal dan tidak melulu karena infeksi virus tersebut.
Dilansir dari laman tempo.co, American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery mengusulkan agar anosmia dan gangguan penciuman lainnya digunakan untuk menyaring kasus-kasus virus corona baru.
Namun, baik Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS maupun Organisasi Kesehatan Dunia tidak menambahkan anosmia ke daftar gejala Covid-19.
Selain karena infeksi influenza, anosmia umumnya juga dapat dialami oleh seseorang yang memiliki alergi yang menimbulkan gangguan penciuman berkepanjangan. Kehilangan kemampuan mencium bau karena alergi ini bahkan telah mempengaruhi tiga sampai 20 persen dari populasi umum.
Ketua IDI Kaltara juga Plt Direktur Utama RSUD Tarakan, dr. Franky Sientoro, Sp.A., menerangkan sebaiknya jika memang tidak bisa merasa atau mencium sesuatu ada baiknya melakukan swab PCR.
“Kalau hilang indera (penciuman) ada baiknya memang kalau mau tau ya di PCR antigen dulu ya dan kalau dia negatif ya mungkin hanya pilek ringan saja,” terangnya kepada benuanta.co.id, Sabtu (21/8/2021).
Ia juga menjelaskan kehilangan indera perasa dan penciuman ini juga biasa terjadi pada penderita Covid-19, namun jika tidak terdiagnosa Covid-19 hal ini bisa disembuhkan dengan cara tertentu.
Franky juga menyarankan bagi yang indera perasa dan penciuman hilang hendaklah menggunakan masker kemanapun bepergian.
“Tidak isoman ya, artinya kan dia pilek tidak Covid namun jika bepergian harus masker jangan dilepas pasang, kemudian janganlah ngumpul sama teman-teman dulu karena kita tidak tahu juga keadaan kita,” ujarnya. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Ramli







