Ekonom: Gentengisasi Bisa Berdayakan Ekonomi Lokal dan Sektor Pariwisata

benuanta.co.id, TARAKAN – Wacana program gentengisasi yang digadang oleh Presiden Prabowo menuai beragam sudut pandang termasuk dari pengamat ekonomi di Kalimantan Utara (Kaltara). Program ini dinilai memiliki dampak dalam mendorong pemberdayaan ekonomi lokal di seluruh kabupaten dan kota.

Pengamat Ekonomi Tarakan sekaligus akademisi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Margiyono, mengatakan, jika dibaca dari perspektif ekonomi, gentengisasi dapat dikaitkan dengan dua aspek utama, yakni pariwisata dan pemberdayaan masyarakat.

“Jadi terkait dengan gentengisasi. Sebenarnya ini kalau kita baca dari perspektif ekonomi, kita mungkin bisa masuk pada aspek pariwisata. Dan juga nanti tentu pemberdayaan masyarakat ya, kita katakan seperti itu,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).

Ia mengatakan, dari sisi ekonomi lokal, penggunaan genteng berbahan tanah liat jauh lebih menguntungkan dibandingkan seng. Pasalnya, hampir seluruh produk seng yang digunakan di Kaltara berasal dari luar daerah. Baginya, belanja masyarakat untuk seng justru menggerakkan ekonomi daerah lain tempat pabrik seng berada.

Sebaliknya, jika genteng diproduksi dari tanah liat yang tersedia di Kaltara, maka proses produksinya, mulai dari pengambilan bahan baku, pencetakan, pembakaran hingga distribusi akan berlangsung di dalam daerah. Dengan demikian, uang yang dibelanjakan masyarakat untuk atap rumah akan berputar di wilayah sendiri.

“Kalau ia menggunakan genteng, maka genteng itu kan bisa saat ini bisa menggunakan tanah liat yang ada di Kaltara. Kalau ia katakanlah ada di tanah liat di Kaltara, misalnya katakanlah menggunakan tanah lempung sebagaimana batu bata, itu kan maka akan memberdayakan ekonomi lokal,” jelasnya.

Ia menambahkan, secara lokasi industri genteng cenderung dibangun di dekat sumber bahan baku karena bahan baku dan produk jadi sama-sama berat. Jika tanah liat tersedia di Tarakan, Bulungan, Malinau, Nunukan hingga Kabupaten Tana Tidung (KTT), maka persebaran pabrik genteng dapat terjadi di berbagai wilayah tersebut dan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat setempat.

Margiyono juga menegaskan, ia tidak merekomendasikan genteng berbahan semen. Jika produksi genteng menggunakan semen, maka kebutuhan semen akan meningkat dan kembali menggerakkan ekonomi luar Kaltara karena pasokannya berasal dari luar daerah. Menurutnya, keunggulan tanah liat adalah ketersediaannya yang merata dan potensi dampak ekonominya yang tersebar.

Tak hanya aspek ekonomi, gentengisasi juga dinilai berpengaruh terhadap estetika kota dan citra pariwisata. Ia menilai perbedaan antara atap seng dan genteng sangat terlihat ketika sebuah kota dipandang dari udara.

“Jadi kalau genteng dengan seng itu kalau kita terbang di atas kota, maka image atau pendapat dari penumpang yang menatap ke bawah itu tentu akan memiliki perbedaan penilaian. Nah, coba kalau kita mencoba untuk terbang di atas Pulau Bali atau kita terbang di atas Surabaya, Jakarta, dan seterusnya, itu kita masih menikmati indahnya rumah-rumah yang memiliki genteng berwarna terakota dan itu nampaknya indah sekali,” tuturnya.

Ia bahkan membandingkan dengan pengalaman melihat kota-kota di dunia dari udara, seperti Dubai dan Atena di Yunani, yang menurutnya memiliki daya tarik visual kuat karena dominasi atap berwarna terakota. Sebaliknya, atap seng yang berkarat dinilai kurang eksotik dan kurang menarik secara visual.

Dari sisi historis, menurutnya bangunan di Kalimantan dahulu banyak menggunakan sirap berbahan kayu. Namun karena kayu semakin langka dan mahal, sirap tidak lagi menjadi primadona. Sejumlah bangunan pemerintah yang dulu menggunakan sirap, seperti kantor tugup dan Lamin Etam di Samarinda, kini tidak lagi mempertahankan material tersebut dan sebagian beralih menggunakan seng, baik seng biasa maupun multirip.

Margiyono menuturkan,  peralihan dari sirap tidak melalui fase penggunaan genteng secara luas, melainkan langsung ke seng. Padahal, dari sisi kesehatan, penggunaan asbes dan seng dinilai memiliki dampak kurang baik. Genteng tanah liat dinilai lebih sehat, terutama dalam pemanfaatan air hujan karena tidak mengandung unsur karatan.

Ia mengakui, dalam jangka pendek kebijakan gentengisasi akan menghadapi sejumlah tantangan. Diperlukan alih teknologi, investasi peralatan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penataan lokasi pengambilan tanah liat agar tidak dilakukan secara acak dan tidak menimbulkan tekanan lingkungan berlebihan.

Selain itu, terdapat kendala budaya. Selama ini masyarakat terbiasa membangun rumah dengan seng karena dianggap murah dan cepat. Perubahan menuju genteng membutuhkan proses adaptasi. Oleh karena itu, ia mendorong agar pemerintah mengambil peran sebagai inspirator, inisiator dan motivator dengan memulai penggunaan genteng lokal pada bangunan-bangunan pemerintah.

“Jadi menurut saya harus dimulai dari pembangunan gedung-gedung pemerintah dulu yang harus menggunakan genteng lokal terlebih dahulu, jadi memang dalam posisi ini pemerintah sebagai inspirator, pemerintah sebagai inisiator, dan pemerintah juga sebagai motivatornya,” tegasnya.

Ia menilai, jika genteng tersedia dengan harga lebih murah, lebih sehat, serta didukung kebijakan seperti kemudahan perizinan IMB dan inisiatif lainnya, maka masyarakat akan perlahan mengikuti pola tersebut.

Secara keseluruhan, Margiyono memandang gentengisasi merupakan bagian dari upaya meningkatkan taraf hidup, memperkuat nilai keindahan kota, menciptakan kawasan yang lebih sehat, sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat lokal. Meski di tahap awal akan menghadapi penyesuaian teknologi dan budaya, dalam jangka menengah dan panjang kebijakan ini dinilai menjanjikan bagi pembangunan pariwisata dan penguatan struktur ekonomi daerah di Kaltara. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *